JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

Mangupura-fajarbali.com | Hampir setahun lamanya pandemi Covid-19 belum juga menunjukkan adanya tanda-tanda akan segera berakhir. Segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti penerapan PPKM serta adanya program vaksinasi juga dinilai belum memberi dampak yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Bali.

Sebagian besar pelaku usaha di sektor pariwisata khususnya hotel dan villa di Bali mengaku, bahwa kunjungan maupun okupansi hotel dirasa jauh menurun dibandingkan tahun 2020 lalu yang membuat perjuangannya lebih berat.

  Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung, IGN Rai Suryawijaya mengakui bahwa saat ini puluhan hotel di Kabupaten Badung oleh pemiliknya terancam dijual dan ditawarkan di marketplace (di situs dunia maya). "Saya memang secara langsung mendapat informasi itu dari pemilik hotel bersangkutan," ucapnya, Selasa (23/2/2021).

  Para pemilik hotel di Badung memilih menjual propertinya karena tidak sanggup lagi menopang biaya operasional. Pasalnya hampir satu tahun tidak mendapatkan pemasukan karena ditutupnya kunjungan wisatawan asing ke Bali sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

  Meskipun pemerintah telah membuka kunjungan untuk turis domestik di masa adaptasi kebiasaan baru, namun belum mampu menutupi biaya operasional. Mengingat tingkat hunian yang berada dibawah 10 persen dan tidak mampu memenuhi biaya perawatan, gaji pegawai, listrik dan lainnya. Sehingga para owner hotel memilih untuk menjual propertinya agar tidak mengalami kerugian berkepanjangan.

  Ia tak menampik bahwa ketidakpastian kembali bangkitnya industri pariwisata Bali membuat pelaku perhotelan putus asa. "Beberapa memang langsung bilang sama saya. Bahkan ada yang menawarkan kepada saya karena dikira saya memiliki networking atau investor. Kalau yang pailit memang ada 1-2 hotel," ungkap Suryawijaya.

  Pihaknya menambahkan, jika banyak pelaku usaha yang menawarkan hotelnya ke investor lokal maupun luar negeri. Namun pada situasi ini, sulit untuk mendatangkan investor. "Beberapa bulan ke depan kita wait and see jangan sampai beralih kepemilikan," terangnya.

  Apa yang dilakukan manajemen hotel saat mengalami masa krisis? Dikatakan Suryawijaya, ketika kondisi turun maka manajemen hotel akan melakukan efisiensi pengeluaran biaya.

"Sekarang sudah 11 bulan. Saat ini betul-betul dalam keadaan sulit, pariwisata Bali sekarang sudah berdarah-darah. Dalam kondisi sulit hotel hanya mampu bertahan 3 bulan. Kami masih optimis pemerintah bisa memulihkan kepariwisataan Bali dan Indonesia," tungkasnya. (dha)