JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

Denpasar-fajarbali.com | Lesunya kunjungan wisatawan ke Bali akibat pandemi Covid-19, menyebabkan industri pariwisata dan ekonomi masyarakat Bali mengalami kemerosotan yang cukup signifikan.

Hal tersebut juga berdampak luas terhadap usaha pariwisata seperti hotel, villa, dan restoran yang biasanya ramai pengunjung akhirnya tutup. Selain itu, belum adanya kepastian kapan pandemi akan berakhir, membuat pelaku usaha di sektor pariwisata dan pendukung lainnya harus berjuang lebih keras untuk memenuhi biaya operasional.

  Menanggapi hal itu, Akademisi Pariwisata I Putu Gede Parma, S.St. Par., M.Par., mengatakan, untuk meyakinkan kembali wisatawan domestik yang saat ini masih menjadi prioritas pemerintah Bali, tentu menjadi hal penting yang harus dipikirkan dan hal ini bergantung pada sikap pemerintah pusat maupun daerah. Tak hanya menjadi tugas dari pemerintah saja, praktisi, akademisi, dan masyarakat juga memiliki peran yang sama dalam memulihkan ekonomi ke depan yang lebih kompetitif.

  "Kini pentingnya mereorientasi (menentukan sikap) pariwisata Bali agar lebih kompetitif dalam upaya meyakinkan wisatawan untuk mau berkunjung berlibur ke Bali. Termasuk juga mereorientasi pasar mancanegara yang tidak saja kita menawarkan keamanan untuk berkunjung, tetapi juga kepastian jaminan kesehatan ketika mereka sedang berlibur," ujarnya, Minggu (21/2/2021).

  Parma menjelaskan, untuk mengembangkan sektor-sektor unggulan lain yang juga kompetitif guna menopang pertumbuhan ekonomi seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan yang selama ini dipandang sebelah mata, masyarakat saat ini harus lebih peka dalam mengembangkan dan tidak hanya berfokus pada satu sektor saja yakni pariwisata.

  "Kita akui pengembangan sektor-sektor tersebut juga perlu adanya dorongan dari pemerintah seperti melalui pelatihan-pelatihan, penyediaan lahan yang mana bisa menggunakan lahan milik pemerintah, penyediaan atau subsidi bibit, pembantuan pengawasan pada tahap proses produksi, termasuk pengawalan pada pasca produksi melalui pembantuan konsep pemasaran baik di dalam maupun ke luar negeri," ucapnya.

  Selain itu, menguatkan strategi pengembangan industri ekonomi kreatif seperti estetika, branding, berbagai model bisnis, sistem informasi dan jaringan, kebudayaan, dan industri digital juga perlu ditingkatkan. Sehingga kebangkitan perekonomian bisa kembali bergairah dan produk yang dihasilkan memiliki daya saing yang tinggi.

  "Tak bisa dipungkiri jika di masa pandemi ini, ekonomi kreatif sedang digemari. Pasalnya, industri ini memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa serta daerah, berbasis kepada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa, serta memberikan dampak sosial yang positif selain dampak ekonominya," terang Parma.

  Harapannya industri ini tidak hanya semata menjadi ‘brand yang keren’, namun implementasi pergerakan industrinya agar benar-benar membumi khususnya pada level Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Bali, tidak semata pada skala perusahaan dengan kekuatan modal yang besar melalui pemberian stimulus usaha. "UMKM sebagai salah satu penopang dari pertumbuhan ekonomi selama ini perlu mendapat perhatian, insentif yang tepat guna, serta tepat sasaran dalam menjaga asa semangat dari masyarakat secara luas," tandasnya. (dha)