JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

Denpasar-fajarbali.com | Masih tingginya kasus Covid-19 yang terjadi hingga saat ini sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Pandemi Covid-19 secara langsung juga memberikan tantangan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan. Berbagai terobosan dan inovasi pun harus dikerahkan.

Salah seorang pelaku UMKM di Denpasar, Krisnayanthi mengatakan, tahun 2021 diprediksi sebagai tahun bertahan. Peluang pasar khususnya pada produk yang dijualnya, yaitu berbagai jenis kebaya dan kain sangat terdampak dengan adanya pembatasan kegiatan keagamaan. "Meski demikian, kita harus bisa survive. Minimal tidak sampai mem-PHK karyawan," ungkapnya.

  Ia mengaku selalu berusaha berinovasi dengan melihat permintaan pasar. Di samping itu, untuk meminimalisir kerugian, produksi barang juga diukur berdasarkan permintaan, sehingga dalam hal produksi dia mengaku tidak berani terlalu banyak. "Selain fokus di oflline dengan beberapa toko yang dimilikinya dan penerapan protokol kesehatan, kita juga gencar melakukan promosi dalam jaringan (daring). Intinya kita harus terus bergerak, karena jika diam, maka akan makin terpuruk," ujarnya.

  Saat ini, pihaknya lebih condong memproduksi produk dengan harga terjangkau. Hal ini juga disesuaikan dengan kondisi perekonomian masyarakat Bali yang masih lesu.

  Hal senada diungkapkan oleh pelaku UMKM lainnya, Adnyani. Dikatakannya, kondisi UMKM secara umum cukup terpuruk saat ini di tengah pembatasan-pembatasan yang ada. Terutama bagi pedagang kecil, yang terbatasnya waktu untuk bertransaksi.

  Kondisi saat ini lebih sulit dibandingkan pada 2020 lalu yang pembatasan sudah berkurang, namun tetap dengan penerepan prokes yang ketat. "Menurut saya sosialisasi prokes yang harusnya digencarkan, bukan pembatasan semata. Seperti dulu kan tetap bisa jalan dengan prokes tetap dijaga," ucapnya.

  Disinggung soal inovasi yang dilakukan, pelaku UMKM di bidang kerajinan emas dan perak ini mengaku lebih banyak memproduksi produk dengan harga terjangkau serta disesuaikan dengan produk yang tren di pasaran. "Sementara untuk produk premium, kita akui mengurangi produksi, mengingat perekonomian yang masih belum stabil," tutupnya. (dha)