JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography
DENPASAR-fajarbali.com | Rasa cemas dan panik tentu mendarat di hati para pelaku bisnis ketika krisis ekonomi menyebar di hampir seluruh negara di dunia akibat Virus Corona atau COVID-19. Alasannya, pebisnis khawatir usaha yang mereka jalani akan terkena imbas krisis. Agar terhindar dari kepanikan, pelaku usaha perlu mengetahui sektor bisnis tahan krisis.


Kondisi krisis menyisakan ketidakpastian. Perusahaan, konsumen, bahkan pemerintah berupaya keras memahami apa yang sedang terjadi dan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi persoalan masif ini. Mengamati situasi tersebut, pelaku usaha harus mampu mengendus setiap peluang yang muncul ke permukaan pasar tanpa terikat dengan momentum tertentu. Peluang itu hadir dari adanya kebutuhan pasar yang belum dapat dipenuhi seluruhnya, atau persoalan pasar yang belum menemui solusi.


Kedua komponen tersebut membuat beberapa peluang usaha tahan terhadap kondisi krisis dan bisa dijalankan dengan baik. Dalam hal ini, terdapat lima sektor bisnis yang dinilai tahan krisis, antara lain, bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B), usaha penjualan kebutuhan bahan pokok, sektor jasa atau produk kesehatan, usaha jasa pendidikan dan pelatihan, serta bisnis sektor digital.

Pengamat ekonomi, M. Setyawan Santoso, Rabu (26/8) menilai bahwa dengan masuknya era new normal maka peluangnya sebagian besar ada di sektor digital. Usaha yang sebelumnya memanfaatkan internet baik dari sisi produksi hingga pemasaran akan diuntungkan dengan new normal. Berbeda dengan bisnis yang sifatnya tradisional dan tatap muka, wajib mengeluarkan biaya operasional yang lebih mahal misalnya ketersediaan masker, hand sanitizer, ruang jaga jarak dan protokol kesehatan lainnya.


"Bisnis digital menjadi salah satu dari deretan sektor bisnis yang dianggap paling dapat bertahan dalam kondisi krisis sekalipun. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi membawa pencerahan bagi masyarakat dan mampu mendukung hingga mengembangkan sektor-sektor bisnis lain. Dalam prosesnya, bisnis digital justru menjadi solusi bagi sebagian besar masyarakat untuk keluar dari persoalan, bahkan dapat mendorong masyarakat untuk keluar dari masa krisis. Misalnya, teknologi digital berupa aplikasi video conference bisa membantu para karyawan untuk bertatap muka jarak jauh dan menyelesaikan persoalan bisnis ketika masa krisis kesehatan akibat Pandemi Covid-19 saat ini," ujarnya.


Diakuinya, bahwa sektor pariwisata di Bali memang yang paling terdampak dari pandemi Covid-19. Jadi, teknologi seperti software akuntansi online seperti saat ini juga bisa membantu perusahaan untuk mengatasi persoalan pengelolaan keuangan secara praktis, akurat dan cepat.

"Intinya, keberhasilan akan tercapai jika kita memiliki energi dan kepercayaan diri atas kemampuan yang dimiliki untuk melewati krisis. Sebab pada dasarnya, setiap pelaku usaha harus siap dan bersemangat untuk memenangkan setiap krisis," imbuhnya.

Santoso menambahkan, pada era new normal harus mempersiapkan berbagai hal terlebih dahulu secara maksimal, utamanya mempersiapkan protokol kesehatan dengan optimal di sektor-sektor yang dibuka saat new normal.

“Untuk saat ini, belum waktu yang tepat terjadi pelonggaran karena korban virusnya masih cukup tinggi. Seperti beberapa negara, harusnya kebijakan kesehatan konsisten ditingkatkan, baru fase new normal bisa optimal. Kita memperkirakan recovery ekonomi baru bisa terjadi pada 2021. Kendati demikian kita menilai dengan masuknya era new normal maka peluangnya sebagian besar ada di sektor digital," tungkasnya. (dhar)