EKONOMI
Typography

MANGUPURA - fajarbali.com | Di tengah pandemi Covid-19, ada saja peluang yang bisa dimanfaatkan agar kegiatan usaha tetap berjalan, bahkan berkembang. Pola pikir yang eksploratif jadi kunci agar kegiatan usaha berlanjut di tengah krisis. Selain itu, memulai usaha dengan sistem berkelompok memiliki banyak keunggulan. Selain meringankan beban modal, tentunya bisa menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi antara sesama anggota. Tidak sedikit usaha sederhana dengan modal patungan yang berkembang dan menghasilkan keuntungan berlimpah.

Sebagian besar masyarakat yang ingin memulai suatu usaha terlebih di masa pandemi cenderung memiliki rasa takut yang besar akan kegagalan. Selain lesunya perekonomian dan daya beli masyarakat, modal yang di gelontorkan untuk usaha juga tidak sedikit.

 

"Apabila ingin memulai suatu usaha namun memiliki modal yang minin atau takut gagal, alangkah baiknya jika bekerja sama dengan beberapa pihak atau kelompok. Di mana kelompok tersebut memiliki ide, tujuan, dan pemikiran yang sama terkait usaha yang akan dibuat. Dengan begitu kebutuhan modal dapat dibagi menurut jumlah pemilik. Nanti bila mendapatkan keuntungan, tentunya harus dibagi dengan beberapa penyetor modal lainnya sesuai kesepakatan di awal usaha," ungkap Pengamat Ekonomi, Komang Candra Dewi, Kamis (6/8/2020).

 

Ia menambahkan, meski ada keuntungannya, usaha yang dibangun secara berkelompok juga memiliki tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut jangan dianggap sebagai masalah besar tetapi dipandang sebagai pembelajaran untuk mencapai kesuksesan.

 

"Hal lain yang dapat dilakukan adalah buat jaringan dengan orang-orang yang memang memiliki kapasitas yang cocok dengan usaha yang akan kita dikelola. Bergabung dengan kelompok dan organisasi memungkinkan kita untuk mempromosikan bisnis tersebut dan bertemu orang-orang yang dapat membantu," imbuhnya.

 

Candra Dewi menuturkan untuk jangan pernah takut untuk mengajukan pertanyaan. Menjadi seorang pengusaha berarti harus selalu belajar dan berinovasi. Menurut dia faktor utama yang harus dipelajari lebih dahulu adalah mengenai teknik marketing.

 

"Terkadang banyak orang yang terlalu berpikir untuk menghasilkan atau menjadikan sebuah produk itu menjadi unggulan. Namun mengesampingkan teknik marketing seperti promosi. Kita terlalu fokus terhadap produk-produk kita harus bagus, tapi yang lebih penting adalah promosi-promosi itu jauh lebih penting daripada produk," jelasnya.

 

Di tengah kondisi seperti ini, lanjut Candra Dewi, pelaku usaha juga harus menguasai yang namanya digital marketing. Di mana saat ini promosi bisa dilakukan melalui sosial media bahkan juga bisa lewat platform digital yang disediakan oleh pemerintah. Promosi tidak bisa dilakukan lagi melalui cara-cara non konvensional. Kondisi hari ini pelaku usaha harus siap masuk ke era digital karena potensinya sangat terbuka lebar.

 

"Kemudian terkahir, selain dari pada teknik marketing atau promosi, pelaku usaha juga perlu memperhatikan kemasan produk. Kita mengibaratkan sebuah istilah 'don't just the book by its cover' yang berarti jangan melihat buku dari sampulnya. Namun faktanya, orang selalu beli buku karena covernya, artinya, packaging itu suatu keniscahayaan juga dalam sebuah produk," tegasnya. (dar).