JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA - fajarbali.com | Transmisi lokal Covid-19 di RSUD Klungkung makin mengkhatirkan. Tercatat empat orang perawat dan satu dokter spesialis jantung terkonfirmasi positif Covid-19.

Untuk memutus penyebarannya, Kamis (25/6/2020) RSUD Klungkung pun menggelar rapid test terhadap seluruh tenaga medis dan pegawainya.

Direktur RSUD Klungkung, dr. I Nyoman Kesuma menjelaskan, rapid test ini sebagai screening awal bagi pegawai RSUD Klungkung terhadap kemungkinan terpapar Covid-19. Rapid massal ini akan dilakukan selama dua hari, mulai kemarin hingga Jumat (26/6/2020) hari ini. Sasarannya ada seluruh tenaga medis dan pegawai RSUD yang jumlahnya disebutkan sekitar 850 orang. Sementara di hari pertama, tercatat sudah sekitar 300 orang yang mengikuti rapid test tersebut.

"Rapid ini kami lakukan setelah ada empat orang perawat dan satu orang dokter spesialis jantung yang positif Covid-19. Dokter spesialis tersebut sudah sembuh, sedangkan empat perawat masih dalam perawatan. Kalau perawat ini, dua orang terpapar dari dokter spesialis jantung dan dua lagi terpapar dari keluarganya yang bertugaa di kejaksaan dan positif Covid-19," terangnya.

Disampaikan, sejauh ini masih ada 40 orang positif pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD Klungkung. Kondisinya mayoritas sudah membaik. Hanya saja, kini RSUD Klungkung terkendala pada hasil swab yang sangat lambat. Dikatakan ada 39 pasien yang masih menunggu hasil swab. Bahkan ada sampel yang dikirim sejak tanggal 16 Juni, tapi sampai sekarang belum keluar hasilnya.

Hal ini tentu saja dikatakan cukup menghambat penanganan Covid-19 di RSUD Klungkung. Dikhawatirkan pasien yang sudah sembuh justru harus lebih lama berada di rumah sakit karena hasil swab tak kunjung keluar. "Setiap pasien itu kan 2-3 hari diswab, yang swab-swab terakhir ini belum keluar hasilnya. Ada swab sejak tanggal 16 diperiksa, tapi hasilnya tidak keluar-keluar. Kita kirim sampelnya ke RSUP Sanglah, saya dengar di sana juga antre," ungkapnya.

Melihat kondisi ini, dr. Kesuma pun sangat berharap RSUD Klungkung bisa melakukan pengujian sampel melalui laboratorium PCR (polymerase chain reaction secara mandiri. Meskipun anggaran yang harus dikeluarkan untuk pengadaan alat cukup tinggi, yakni mencapai Rp 5 Miliar. "Harapannya bisa PCR di RSUD Klungkung sehingga lebih cepat hasilnya. Kalau hasilnya memang negatif lebih cepat pulang pasiennya," harap dr. Kesuma.

Sebelumnya, Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta juga sempat menyinggung prihal lambatnya hasil test swab keluar. Melihat banyaknya sampel yang harus diuji, Bupati Suwirta sejatinya memaklumi jika hasil swab sering kali lambat. Namun, dirinya juga tak bisa mengabaikan ketika menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait hasil swab yang lambat. Dikatakan, selama menunggu hasil swab, psikologis masyarakat sangat diuji. Tak jarang ada pula yang mengeluh langsung kepada Ketua Gugus Tugas sekaligus Bupati Klungkung ini. Demikian juga dengan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sering was-was menunggu hasil swab yang cukup lama.

"Saya pahami secara psikologis warga kita di Rumah Sakit yang nunggu hasil swab lama, temasuk para PMI di hotel juga banyak yang nunggu hasil swab lama. Mereka pasti jemu dan merasa bosan," ujarnya. (dia).