JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

 

SEMARAPURA - fajarbali.com | Sejumlah petugas yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) nampak bersiaga di setra Bugbugan, Desa Gelgel, Klungkung, Minggu (21/6/2020). Hal ini menyusul kematian Putu AS (49) warga asal Banjar Jro Agung Klod, Desa Gelgel. Pria yang sehari-hari tinggal di Denpasar tersebut sejak lama telah menderita penyakit kronis. Bahkan almarhum harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Namun, informasi mengejutkan justru muncul pasca kematiannya. Test swab yang sempat dijalani di RS Wangaya, Denpasar menunjukkan hasil positif Covid-19.

 


Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Klungkung, I Nyoman Suwirta membenarkan adanya peristiwa kematian tersebut. Sesuai informasi yang diperolehnya, sebelum meninggal, Putu AS menderita penyakit kronis. Saat kondisinya drop, pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat dari tempat tinggalnya, yakni RS Wangaya. Sesuai prosedur penerimaan pasien di rumah sakit tersebut, sebelum menjalani perawatan pasien dites swab. Namun, belum sehari menjalani perawatan, kondisi pasien semakin parah dan pada Rabu (17/6/2020) lalu dinyatakan meninggal dunia. Pasca pasien meninggal dunia, barulah hasil tes swab keluar, Putu AS terkonfirmasi positif Covid-19.

Setelah kejadian tersebut, prosesi penguburan jenazah almarhum pun dilakukan pada Minggu (21/6/2020) di kampung halamannya di Desa Gelgel, Klungkung. Pantauan di lapangan, sejak pagi persiapan penguburan dengan protokol Covid-19 sudah dimulai. Sekitar pukul 11.30 Wita, tim gabungan yang terdiri atas anggota Polri, TNI, dan petugas Kesehatan serta Satgas Desa Gelgel sudah bersiap dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

Peti jenazah dikeluarkan dari mobil ambulance oleh tim gabungan tersebut. Ditandu langsung menuju liang lahat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Bendesa Adat Gelgel, Putu Gde Arimbawa juga nampak memantau prosesi pemakaman. Menurutnya, semasa hidupnya Putu AS memang tinggal di Denpasar. Ia bersama ibunya diketahui bekerja sebagai pedagang di salah satu pasar di Denpasar. Alm juga menderita penyakit kronis, bahkan harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu.

Dikatakan, sebelumnya pihak keluarga sempat berencana untuk mengkremasi jenazah Putu AS. Sayangnya, keinginan tersebut terhadang aturan. Yang mana untuk melakukan kremasi jenazah, pihak keluarga harus melampirkan hasil rapid test Alm dengan hasil non reaktif. "Pihak keluarga rencananya mau kremasi. Tapi petugas tempat kremasi menolak karena sekarang harus melampirkan surat rapid non reaktif. Jadi akhirnya kami putuskan dikubur," ungkapnya.

Sementara pasca salah seorang warganya meninggal dengan hasil swab positif, Putu Gde Arimbawa pun memastikan akan mengambil langkah lanjutan. Apalagi sebelumnya pada Sabtu (13/6/2020) lalu, ibu dari Alm. Putu AS telah lebih dulu meninggal dunia. Ketika itu, ada sejumlah warga yang melayat ke rumah duka dan mengikuti prosesi penguburan. Namun, Putu Gde Arimbawa mengatakan penguburan kala itu juga sudah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dan tidak banyak warga yang hadir. Meski demikian, seluruh warga yang sempat kontak segera akan didata untuk selanjutnya diusulkan untuk rapid test. (dia).