JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA - gajarbali.com | Jelang Hari Raya Galungan, pembuatan dodol di Banjar Kawan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung mulai kebanjiran pesanan. Sayangnya, harapan untuk memperoleh keuntungan telah pupus. Penyebabnya, harga gula melambung, sehingga biaya produksi juga turut membengkak. Mereka pun berharap pemerintah segera menyikapi kondisi ini, sehingga harga gula stabil kembali. 

 

Salah seorang pembuatan dodol di Desa Besan, Nengah Yuliati mengatakan sebelumnya ia biasa membeli satu sak (50 kilogram) gula seharga Rp525 Ribu. Namun, sejak beberapa hari terakhir harga gula mulai merangkak naik. Bahkan kini, ia harus mengeluarkan uang Rp650 Ribu untuk memperoleh satu sak gula. Kenaikan harga inipun dirasakan cukup memberatkan. Apalagi dirinya hanya pengusaha rumahan kecil-kecilan, tidak memiliki cukup modal. 

"Kendala kami sekarang, harga gula pasir naik. Di hari normal Rp525 Ribu per sak, sekarang harganya Rp 650 Ribu. Kenaikan cukup tinggi, sehingga kami kesulitan untuk memproduksi dodol dengan takaran yang normal," ungkapnya seraya mengaku khawatir ditinggalkan pelanggan kalau menaikan harga dodolnya. 

Untuk menyiasati situasi ini, Nengah Yuliati mengatakan dirinya terpaksa membuat dodol nangka, salak, dan injin (beras hitam) dengan ukuran yang lebih kecil. Dengan demikian, ia tak perlu meningkatkan harga dodol buatnya. "Kalau ukurannya dikecilkan, kami bisa menjual dengan harga yang sama. Yaitu Rp800 per bijinya. Kalau satu kilonya Rp70 Ribu," imbuhnya. 

Walau demikian, perempuan paruh baya ini sangat berharap pemerintah bisa turun tangan. Sehingga mendekati Hari Raya Galungan, harga bahan baku gula tidak naik lagi. Bahkan, jika sangat diharapkan harga gula bisa kembali seperti semula. "Kalau lama-lama harga gula terus tinggi, kami juga sulit memproduksi dodol. Semoga pemerintah bisa segera menstabilkan harga gula," harapnya. (dia).