JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA - fajarbali.com | Tahun ini pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) telah ditiadakan. Meski demikian, hal ini rupanya tak mengendorkan target Dinas Pendidikan Kabupaten Klungkung untuk pengadaan komputer di sekolah-sekolah. Bahkan, dalam waktu dekat 4 Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan digelontor masing-masing 40 unit komputer. 

 


Kepala Dinas Pendidikan Klungkung, I Dewa Gede Darmawan mengungkap, komputer menjadi salah satu sarana dan prasarana pembelajaran yang sangat penting. Untuk itu, walaupun UNBK dihapuskan pengadaan komputer tetap berlanjut. “Komputer tetap dibutuhkan sekolah. Walaupun tidak dipakai untuk UNBK, bisa digunakan untuk melakukan ujian lain seperti pendidikan karakter dan lainnya," jelasnya. 

Kata Dewa Darmawan, untuk tahun 2020 ini ada empat SMP yang akan diberikan bantuan masing-masing 40 unit komputer. Meliputi, SMP Satu Atap Batukandik, SMP Satu Atap Pejukutan, SMPN 6 Nusa Penida dan SMPN 4 Semarapura. Hal ini dikatakan sudah sesuai kebutuhan di lapangan. Walaupun demikian, Dewa Darmawan mengatakan masih ada SMP yang belum mendapat bantuan komputer tahun ini. Yakni SMPN 4 Banjarangkan dan SMP Satu Atap Takmung. "Nanti masing-masing sekolah tersebut akan mendapat bantuan satu paket komputer sebanyak 40 unit," imbuh pejabat asal Desa Manduang ini. 

Selain berupaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana berupa komputer, saat ini Dinas Pendidikan Klungkung juga sedang berupaya meningkatkan kualitas serta kuantitas pustakawan dan laboran. Mengingat, sampai saat ini belum semua sekolah yang menjadi tanggung jawab Disdik Klungkung memiliki ruang perpustakaan permanen. Masih ada sejumlah sekolah yang perpustakaanya 'menumpang' ataupun memanfaatkan bangunan lain. Di samping itu, untuk keberadaan laboratorium juga tak jauh berbeda. Bahkan di SMPN 4 Semarapura dan SMPN 4 Banjarangkan tercatat belum memiliki ruangan laboratorium. 

Tak hanya itu, untuk pustakawan dan laboran yang bertugas di sekolah-sekolah juga dikatakan belum bersertifikat. Oleh karena itu, para pustakawan dan laboran ini akan diupayakan untuk bisa mengikuti diklat (pendidikan dan pelatihan) sesuai dengan bidangnya. "Memang belum semua sekolah punya perpustakaan parmanen. Tapi sekolah sudah menyiasati dengan menggunakan bangunan yang ada untuk dijadikan perpustakaan. Walau demikian, di masing-masing sekolah sudah ada laboran dan pustakawannya. Hanya saja, mereka ini belum bersertifikat sehingga perlu mengikuti diklat," jelasnya. (dia).