JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA - fajarbali.com | Sebuah tempat usaha pembuatan cincau di Jalan Subali, Semarapura Klod Kangin, Rabu (29/1/2020) 'digerebek' puluhan anggota Satpol PP Klungkung. Selain menimbulkan asap tebal dan dikeluhkan warga, petugaa juga dibuat geleng-geleng kepala karena limbah pembuatan cincau dibuang ke sungai. 

 

Kepala Pelaksana Satpol PP dan Damkar Klungkung, Putu Suarta mengatakan tim terjun ke lokasi sekitar pukul 07.30 Wita. Selain anggota Satpol PP, pihaknya juga melibatkan jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP), serta perizinan. Diungkapkan, tindakan tegas yang diambil Satpol PP ini bermula dari laporan warga. Yang mana penggunaan bahan bakar berupa sebuk gergaji dikeluhkan menimbulkan asap tebal. Di samping itu, rumah-rumah warga di dekat tempat pembuatan cincau tersebut juga diselimuti debu pembakaran yang tertiup angin. 

Saat dicek ke lokasi, Putu Suarta bersama anggota tim yang lain juga mendapati fakta yang tak kalah mengejutkan. Selama ini pemilik usaha, Syafrianta Ginting rupanya membuang limbah cincau ke sungai. Meski di lokasi ditemukan septik tank, tapi itu hanya difungsikan sebagai pajangan. Lantaran saat ditelusuri, rupanya pipa pembuangan tidak terhubung ke septik tank melainkan ke sungai yang ada di dekat lokasi pembuatan cincau. 

Atas temuan-temuan tersebut, pejabat asal Lingkungan Pegending ini lantas menjatuhkan sanksi Tipiring. Walaupun sudah mengantongi izin usaha kecil, tapi pemilik tetap akan diganjar dengan Perda  Nomor 2 Tahun 2014 tentang Ketertiban Umum dengan ancaman denda maksimal Rp50 juta dan kurungan 3 bulan. Apalagi sebelumnya, dua tahun lalu pemilik usaha juga sudah sempat dijatuhi peringatan atas pelanggaran serupa. 

"Pemilik sudah mengakui kalau buat septik tank tapi hanya pajangan saja, karena pipa pembuangan justru langsung mengalir ke sungai. Sebelumnya sudah sempat dilakukan pembinaan dua tahun lalu, tapi dengan situasi sekarang akan kami jatuhi Tipiring," tegas Putu Suarta seraya mengatakan ada empat orang pekerja di usaha pembuatan cincau tersebut. 

Selain mengrebek tempat pembuatan cincau, di hari yang sama Satpol PP juga mendatangi kandang babi yang berlokasi di Desa Sampalan Tengah, Kecamatan Dawan. Hal ini juga diawali dari laporan warga yang mengeluhkan aroma tak sedap dari limbah babi yang dibuang ke sungai. Saat dicek, pemilik kandang Wayan Subagiana yang beralamat di Desa Sulang menyampaikan saat ini memelihara lima ekor babi. Dirinya pun mengakui, di dekat kandang memang sudah dibangun bak penampungan limbah, tapi selama ini tidak pernah difungsikan. Sebab, pipa pembuangan limbah babi justru disalurkan ke sungai terdekat.

Mendapati temuan demikian, Putu Suarta pun langsung memutuskan agar pemilik kandang dikenai sanksi Tipiring. Apalagi, sebelumnya sudah bolak-balik diberi peringatan hingga lima kali. "Seperti pembuatan cincau, ini juga melanggar Perda 2 tahun 2014 tentang Ketertiban Umum.  Sudah lima kali lakukan pembinaan sehingga sekarang langsung ditipiring. Kalau dua kali tipiring kita kenai UU Lingkungan Hidup, kita serahkan ranahnya ke polisi nanti bisa dipidana," tegasnya. (dia).