JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Seiring perkembangan teknologi, pembuatan gula dengan cara tradisional di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung makin ditinggalkan. Hingga kini, hanya tersisa 15 orang pembuat gula merah . Untuk penjualan, mereka pun harus bersaing dengan serbuan gula oplosan yang datang dari Pulau Jawa.

Pasangan suami istri, Nyoman Suriati (50) dan Komang Surna (49) adalah salah satu pembuat gula merah di Banjar Kawan, Desa Besan. Sehari-hari, Suriati bertugas mengolah bahan baku berupa tuak (nira). Caranya masih tradisional, tuak dimasak dalam wajan besar dengan menggunakan kayu bakar. Selanjutnya, tuak yang sudah berubah kental dan berwarna merah dicetak dengan menggunakan batok kelapa.

Sedangkan suaminya, Surna yang menyadap pohon kelapa. Dalam sehari, mereka bisa menghasilkan 4-5 kilogram gula merah. Sayangnya, hasil tersebut tidak berlangsung lama. Sewaktu-waktu, gula yang diproduksi bisa berkurang, lantaran minimnya bahan baku. Hal inilah kendala yang sedang dihadapi para pembuat gula tradisional di desa tersebut.

Bahan baku tuak semakin sulit diperoleh. Kalaupun ada, tukang panjat untuk menyadap tuak tidak ada. Mayoritas penyadap tuak sudah lanjut usia. Sedangkan generasi muda tak tertarik untuk meneruskan keahlian tersebut. Mereka lebih memilih bekerja ke Denpasar. "Kendala bahan baku, tuak ada tapi tukang naik tidak ada. Suami saya sering kecapean karena harus menaik 15 pohon dalam sehari. Kalau musim hujan, kami juga takut naik cari tuak," tuturnya.

Selain keterbatasan bahan baku, para pembuatan gula batok tradisional juga harus bersaing dengan serbuan gula oplosan. Bahan baku gula didatangkan dari Pulau Jawa, lalu dioleh kembali di Desa Besan. "Keberadaan gula oplosan ini sangat merugikan kami. Sampai sempat pembuat gula batok rapat di kantor perbekel. Tapi saat rapat itu tidak ada solusi karena alasan sama-sama cari makan," jelasnya.

Meski demikian, Suriati tetap bersyukur karena antara gula asli dan yang oplosan sangat mudah dibedakan. Katanya, gula oplosan terasa pahit. Oleh karena itu, pembeli yang sudah tahu pasti akan memilih untuk membeli gula dengan mendatangi rumah-rumah penduduk. "Sekarang konsumen sudah sadar dan datang sendiri beli gula batok ke rumah warga," imbuh Suriati.

Sementara Perbekel Besan, Ketut Yasa mengungkap saat ini hanya tersisa 15 orang pembuat gula batok tradisional di desanya. Sebelumnya sempat ada kelompok, tapi seiring berjalannya waktu anggotanya kian menyusut. Padahal, dikatakan sering mendapat pembinaan dari Pemkab Klungkung. Padahal dari segi harga cukup menjanjikan, yakni Rp20 ribu per kilogram. Harganya pun bisa meningkat di saat hari raya, yakni mencapai Rp23 ribu per kilogram. (dia)