JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Kasus-kasus akibat kenakalan remaja makin merebak di Kabupaten Klungkung. Pasca aksi duel siswa SMP di Banjarangkan, kini seorang siswa di SMAN 1 Dawan, I Putu NAP terpaksa dikembalikan ke orang tuanya.

Pihak sekolah tak sanggup lagi membina siswa asal Banjar Sengguan, Klungkung tersebut. Lantaran terlibat perkelahian, malas, serta kerap berulah di dalam kelas.

Kamis (12/9), Kepala Sekolah SMAN 1 Dawan, I Made Mardika didampingi Guru BK, Ida Ayu Relawati menjelaskan keputusan tegas yang diambil pihak sekolah sudah didasarkan atas sejumlah pertimbangan. Diantaranya, sebelum menempuh pendidikan di SMAN 1 Dawan, siswa kelas XII IPS3 tersebut merupakan siswa pindahan dari SMA Saraswati. Sejak berseragam SMAN 1 Dawan, Putu NAP dikatakan sudah bermasalah. Seperti jarang hadir, kalaupun ke sekolah ia kerap mengganggu proses belajar mengajar.

Tak hanya itu, puncaknya pada Rabu (4/9) lalu, siswa tersebut terlibat perkelahian di Pura Dalem Nangga, Desa Sampalan. Bahkan videonya viral dan saat kejadian,  ia masih menggunakan seragam sekolah. Dikatakan, perkelahian bermula saat Putu NAP (17) dengan sengaja melempar kayu ke tubuh siswa lainnya I Gede SAW (17). 

Awalnya hal ini tidak dihiraukan oleh Gede SAW. Tapi, Putu NAP (17) justru menantang Gede SAW (17) untuk berduel. Perkelahian pun tidak terhindarkan lagi. Pengempon pura yang mengetahui kejadian tersebut lantas mendatangi sekolah dan menyampaikan keberatannya. Mereka khawatir, apabila saat perkelahian ada pertumpahan darah, sehingga perlu digelar upacara di pura tersebut.

Melihat kelakuan siswanya tersebut, Ida Ayu Relawati selaku guru BK sudah menempuh berbagai upaya untuk pembinaan. Namun, tidak kunjung membawa perubahan. "Kami selaku guru sudah melakukan pembinaan bagaimana dan berupaya mendidik murid. Tapi dengan upaya yang sudah kami lakukan juga tidak ada perubahan," jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan, pasca terlibat perkelahian, pihak sekolah sudah sempat memanggil orang tua siswa bersangkutan. Bahkan, sampai membuat surat pernyataan agar siswa tersebut taat dengan aturan sekolsh, wajib lapor ke BK, rajin dan tekun ikuti pelajaran. Sayangnya, surat itupun dilanggar. Pada Selasa (10/9), ia datang terlambat tidak memakai atribut lengkap ke sekolah. "Dilema kami menghadapi siswa seperti ini. Daripada rugi karena satu orang. Tiang sudah coba membina tapi tidak bisa," imbuhnya.

Senada dengan penjelasan Guru BK, Kepala SMAN 1 Dawan, I Made Mardika juga memberi penjelasan yang sama. Dalam surat yang tertanggal 10 September 2019 telah dipaparkan mengenai landasan pihak sekolah mengembalikan I Putu NAP kepada orang tuanya. Pertama disebutkan, bahwa pasca perkelahian di Pura Dalem Nangga, siswa yang bersangkutan sudah membuat surat pernyataan. Bila surat tersebut dilanggar, maka yang bersangkutan akan dikeluarkan tanpa kompromi lagi. Kedua, ternyata pada Selasa (10/9) ia datang terlambat dan melanggar atribut sekolah.

"Sesuai perjanjian yang telah disepakati dan disetujui wali/orang tua maka mulai hari Selasa/10/9/2019 anak tersebut kami kembalikan. Nama I Putu NAP kelas XII IPS3 asal Banjar Sengguan, Klungkung diputuskan dikembalikan kepada orang tuanya," demkian poin ketiga dalam surat yang ditandatangai oleh Kepsek, I Made Mardika. (dia)