JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Sempat terpuruk dan ditinggalkan, kini budidaya rumput laut kembali bergeliat di Nusa Penida, Klungkung. Sayangnya, ketika para petani bersemangat untuk melakukan panen perdana, gelombang tinggi justru menerjang. Sehingga banyak rumput laut siap panen hanyut terbawa arus. Kerugian jutaan rupiah pun kini dialami oleh para petani. 

Salah seorang petani rumput laut, Wayan Suarbawa menuturkan sejak tahun 2017 lalu, banyak petani beralih ke sektor pariwisata. Menyusul serangan hama yang selalu menyebabkan rumput laut mereka gagal panen. Namun, ketika jajaran Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Pemkab Klungkung melakukan demontrasi plot budidaya rumpu laut di perairan Lembongan, warga kembali tertarik untuk menggeluti bisnis yang cukup menjanjikan tersebut. 

Oleh karena itu di awal 2019 lalu, Suarbawa bersama sejumlah warga lainnya, memulai melakukan budidaya rumput laut jenis cottoni di perairan Lembongan. Mulai usahanya, Suarbawa menanam benih di lahan seluas sekitar sepuluh are. Setelah 45 hari berlalu, mereka pun bersemangat untuk melakukan panen perdana. Namun, harapan tersebut buyar ketika mengetahui gelombang tinggi datang dan menyapu rumput laut tersebut. 

"Kami tidak mengira, karena gelombang di Lembongan tidak sebesar itu. Tapi banyak rumput laut kami yang sudah siap panen hanyut terbawa gelombang. Tidak hanya yang siap panen, rumput laut untuk bibit juga hanyaut dibawa ombak besar belum lama ini,” kisahnya Senin (17/6).

Akibat peristiwa tersebut, sekitar satu are rumput laut siap panen milik Suarbawa hanyut. Kerugian yang dideritanya pun mencapai Rp3 juta. Meski demikian, ia mengaku tidak kapok. Apalagi harga rumput laut kering dengan kadar air 36 persen cukup tinggi. Yakni Rp 20 ribu dan pemasarannya pun mudah, karena para pengepul langsung mendatangi para petani. "Hanya gelombang tinggi saja yang menjadi kendala kami melakukan budidaya sehingga panen kurang maksimal," imbuhnya.

Di sisi lain, Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, Wayan Durma menyampaikan belum mendapat informasi terkait rumput laut warga yang tersapu gelombang. Walau demikian, menurutnya hal tersebut sangatw wajar terjadi. Mengingat faktor alam kerap tidak dapat diprediksi. Sebagai upaya antisipasi kerugian, Durma menyarankan agar pembudidaya membuat kelompok petani rumput laut. Hal ini akan memudahkan pemerintah untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. Demikian juga jika ada bantuan yang dikucurkan oleh pemerintah. 

Lebih lanjut diungkapkan, budidaya rumput laut di Lembongan memang sempat terpuruk. Selain karena serangan hama, para petani juga banyak beralih ke sektor pariwisata. Namun, kini dikatakan budidaya rumput laut sudah mulai bangkit. Bahkan sudah ada sekitar 200 warga yang kembali berkecimpung ke sektor pertanian yang hasilnya cukup menjanjikan tersebut.

"Persoalan alam di laut bisa saja terjadi. Karena itu faktor alam, tapi rumput laut yang hanyut bisa saja kembali lagi,” ujar Durma sekaligus berharap generasi muda turut tergiur untuk menggeluti budidaya rumput laut. (dia)