JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Di saat Pemerintah Kabupaten Klungkung mengebut realisasi Pelabuhan Segitiga Emas, kini Pemprov Bali justru disebut-sebut akan membangun Pelabuhan 'tandingan' yakni Segitiga Sanur.

Menyikapi informasi tersebut, jajaran Pemkab Klungkung pun segera akan melakukan koordinasi. Guna memastikan konsep sekaligus lokasi pelabuhan. 

Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Kabupaten Klungkung, Wayan Wasta Rabu (12/6/2019) tak menampik bila Pemprov Bali juga berencana membangun pelabuhan penyeberangan menuju ke Nusa Penida. "Ada dua skema konsep pelabuhan yang akan dibangun. Ada Segitiga Emas yang digagas Pemkab Klungkung dan ada Segitiga Sanur milik Pemprov Bali," ujarnya didampingi Kabid Perekenomian Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan,  Nyoman Sidang. 

Hanya saja, hingga saat ini Wasta mengaku belum pernah berkoordinasi secara resmi dengan Pemprov Bali untuk membahas rencana pembangunan pelabuhan tersebut. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Pelabuhan Segitiga Sanur sengaja dirancang oleh Pemprov, agar Provinsi juga memiliki kewenangan atas pengalokasian anggaran. Lantaran sesuai regulasi, Provinsi bisa masuk bila pembangunan dilakukan lintas kabupaten/kota. Nah, bila Pelabuhan Segitiga Sanur terwujud, maka pembangunan akan dilakukan di Sanur, Denpasar dan juga Nusa Penida. Dengan demikian, Pemprov bisa memperjuangan anggaran, baik dari APBD Provinsi maupun mengajukan usulan ke APBN. 

Lebih lanjut disampaikan, sejauh ini konsep Pelabuhan Segitiga Emas yang digagas Pemkab, masih seperti  perencanaan awal di tahun 2015 lalu. Yakni pelabuhan akan dibangun di tiga lokasi, yakni Pesinggahan, Sampalan, serta Bias Munjul. Dari ketiga pelabuhan tersebut, untuk sementara rencana Pelabuhan Sampalan yang paling unggul. Yakni sudah sampai pada tahap Master Plan, dan estimasi anggaran pembangunan ditaksir mencapai Rp55 Miliar. Sedangkan untuk dua pelabuhan sisanya, Pesinggahan dan Bias Munjul baru sampai pada tahap feasibility study (FS). Sedangkan untuk estimasi anggaranya masih menunggu hingga tahap master plan tuntas. 

"Dana Pelabuhan Sampalan kalau saat DED tahun 2017 dirancang Rp 48 Miliar, tapi kemarin setelah master plan bertambah sampai Rp 55 Miliar. Kalau Bias Munjul belum muncul DEDnya baru FS saja. Pesinggahan juga baru FS saja belum ada penetapan anggaran, estimasi juga belum berani," imbuhnya. 

Di sisi lain, untuk Pelabuhan Segitiga Sanur yang sedang direncanakan oleh Pemprov Bali juga mengambil tiga lokasi. Yakni di Sanur, Toya Pakeh, serta di Lembongan. Melihat skema tersebut, Wasta sangat berharap segera bisa melakukan koordinasi dengan Pemprov. Mengingat ada lokasi pelabuhan yang kemungkinan bisa disatukan.

"Lokasi di Lembongan akan kita koordinasikan, apakah bisa ditarik ke Bias Munjul, biar jadi satu. Namun, arah mereka (Pemprov) kemarin masih bilang tetap di Lembongan. Kita akan koordinasikan lagi. Katanya Dinas Perhubungan Provinsi, Jumat ini akan ke Lembongan. Kami akan ikut, kita arahkan agar jadi satu konsep dengan kita," jelas Wasta. 

Kalaupun kedua lokasi pelabuhan tersebut tidak bisa 'disatukan', Wasta masih berharap ada perbedaan konsep. Yang mana, saat ini Pelabuhan Segitiga Emas dibangun untuk memfasilitasi wisatawan, sedangan untuk Pemprov masih diharapkan akan fokus pada pelabuhan barang.

"Konsepnya agar berbeda, kita lebih banyak untuk wisatawan walau ada pelabuhan barang juga. Konsep yang di Sanur kami belum tahu. Segitiga Sanur namanya, belum kita bedah arahnya ke mana. Mudah-mudahan nanti Jumat akan sama-sana turun," tutupnya. (dia/Fajar Bali)