JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Kasus korupsi mega proyek Dermaga Gunaksa sudah diketok palu. Tak hanya mantan pejabat teras, mantan Bupati Klungkung, I Wayan Candra pun ikut terseret.

Namun, saat pihak Kejaksaan bersiap mengeksekusi aset milik Wayan Candra, gejolak kembali muncul.  Menyusul dua warga Dusun Cemapa, Desa Pikat, Kecamatan Dawan yang menggugat Kejaksaan Negeri Klungkung. 

Rabu (10/4/2019), Kepala Kejaksaan Negeri Klungkung, Otto Sompotan membenarkan adanya gugatan tersebut. Kedua penggugat adalah I Nengah Nata Wisnaya dan I Ketut Regug yang sama-sama berasal dari Dusun Cempaka, Desa Pikat, Kecamatan Dawan. Di dalam gugatan tersebut, baik Nata Wisnaya dan Ketut Regug mengklaim bahwa sejumlah aset  Wayan Candra yang sudah disita atas kasus korupsi Dermaga Gunaksa adalah milik mereka.

Menyikapi hal ini, Kejaksaan Negeri Klungkung tentu tidak diam, apalagi putusan pidana atas kasus I Wayan Candra tersebut sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah). Menurut Otto, semua aset tersebut sudah dirampas negara.

Statusnya barang rampasan milik Negara dan sekarang tinggal proses eksekusi saja. "Mereka mendalilkan kalau aset tersebut adalah milik mereka. Tapi kasus Candra ini sudah berkekuatan hukum tetap dan inkrah di MA,” ujar Otto Sompotan didampingi Kasi Intel, Gusti Ngurah Oka Winata dan Kasi Datun, Tjokorda Indra Sunu.

Kajari justru mempertanyakan, mengapa baru sekarang kedua warga tersebut mengajukan gugatan dan berdalil aset tersebut milik mereka. Otto menjelaskan, seharusnya ketika proses persidangan kasus Candra itu bergulir, kedua warga yang merasa keberatan mengajukan pra peradilan. Kondisi inipun membuat pihak kejaksaan menduga, bahwa ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk 'menyelamatkan' aset milik Candra sebelum dieksekusi. 

"Curiga kan boleh saja, asalkan tidak menuduh. Memang berhak sebagai warga negara ajukan gugatan. Tapi hal ini perlu dikawal bersama karena ini barang bukan milik siapa, melainkan status milik negara, ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, dengan munculnya gugatan dari warga tersebut, pihak Kejaksaan dipastikan tidak gentar. Sebaliknya, hal ini justru akan dijadikan landasan untuk melanjutkan kasus korupsi tersebut. Pihak-pihak yang terlibat akan dikejar kembali. Khususnya mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU). Apalagi pihak kejaksaan juga melihat ada indikasi menyamarkan harta benda mereka yang terlibat dalam TPPU kasus Candra. 

"Kami tidak akan mundur, dia mengugat kami layani, dia jual kami beli, dia jual mahal kami kasi bonus," imbuh Otto sekaligus mengatakan rencananya hari ini akan digelar sidang perdana atas gugatan Nata Wisnaya dengan agenda pembuktian dokumen. 

Demikian juga dengan aset berupa tanah maupun bangunan milik Wayan Candra yang sudah disita, proses eksekusi tetap akan dijalankan. Bahkan tahun ini ditarget lelang salah satu aset sudah tuntas. "Hal itu tidak akan menghalangi langkah pihak Kejaksaan melakukan proses eksekusi aset Candra. Malah Kejaksaan manarget tahun ini ada salah satu aset yang sudah dilelang," ujarnya. 

Untuk diketahui, aset milik Candra yang disita Kejari Klungkung mencapai 51 bidang. Dari 51 aset tersebut, sejauh ini baru 10 bidang aset yang tersebar di wilayah Klungkung, Nusa Penida dan Denpasar yang bisa diproses lelang. Diantaranya Puri Cempaka, lahan di Desa Bunga Mekar 9450 meter persegi, Desa Ped seluas 10 ribu meter persegi, Desa Tojan 850 meter persegi, di Dawan Kaler lahan seluas 14.200 meter persegi. Selain berupa lahan, aset berupa tanah dan bangunan milik Candra yang berlokasi di Denpasar, kini juga sudah siap dilelang. Diantaranya,  lahan dan bangunan di wilayah Seminyak, Badung seluas 87 meter persegi. 

Sedangkan sisanya, yakni 41 bidang aset belum memasuki proses lelang. Lantaran mayotitas berada di kawasan eks Galian C. Saat ini pihak Kejaksaan masih melakukan identifikasi. Prosesnya memang cukup panjang. Terjangan lahar dingin yang sempat melanda kawasan tersebut, juga disebut sebagai salah satu penyebabnya. 

Di sisi lain, I Wayan Candra saat ini sudah menjalani hukuman atas kasus korupsi pengadaan lahan Dermaga Gunaksa. Mantan Bupati Klungkung dua periode ini diganjar dengan hukuman pidana kurungan 18 tahun dan denda Rp10 Miliar subsider kurungan 1 tahun 9 bulan. Candra yang berasal dari Desa Pikat, Dawan inipun diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 42 Miliar. (dia)