JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Permasalahan sampah yang mencuat sejak beberapa minggu terakhir menjadi sorotan DPRD Klungkung. Untuk membahas masalah tersebut, Selasa (26/3/2019) Komisi II DPRD Klungkung menggelar rapat kerja dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung.

Komisi II mendesak agar OPD terkait intens memberikan pendampingan terhadap desa-desa yang menggulirkan Program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS).

Anggota Komisi II DPRD Klungkung, Gde Artison Andarawata menilai permasalahan sampah perlu disikapi secara serius. Menurutnya, meski pemerintah telah memberikan solusi melalui Program TOSS, tapi hingga kini program tersebut belum berjalan optimal. Bahkan TOSS di sejumlah desa, masih terkendala kapasitas mesin. Selain itu, ada juga yang terkendala lahan untuk penampungan sampah.

Seperti yang terjadi di TOSS Desa Gelgel. Sejak dua minggu terakhir, TOSS di lokasi tersebut sudah ditutup. Lantaran pihak desa kesulitan mencari tenaga untuk memilah sampah. Di samping itu, kapasitas mesin yang terbatas juga tidak sebanding dengan jumlah sampah yang datang setiap harinya.

Menyikapi permasalahan ini, politisi Partai Demokrat ini meminta agar OPD terkait turun memberi pendampingan. Khususnya, mengenai mesin TOSS yang kerap rusak dan pihak desa kerap kesulitan untuk memperbaikinya.

"TOSS ini masih perlu pendampingan lagi. Saya lihat mesin untuk operasional TOSS agak susah dicari. Servicenya juga, sehingga perkiraan pihak desa dua tahun sudah rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi," ujar Artison Andarawata.

Lebih lanjut, politisi yang akrab disapa Sony ini meminta agar Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan memberikan bantuan secara berkala kepada desa-desa yang menggulirkan program TOSS. Dengan demikian pihak desa diyakini dapat memanfaatkan mesin dalam waktu yang lama. Jika ada kerusakan, mesin juga langsung dapat diperbaiki. "Di Dinas kan tidak ada menganggarkan untuk mesin TOSS itu, tapi setidaknya berikan lah pendampingan. Bantu Desa mencari alat-alanya, bagaimana menyediakan peralatan hingga tenaga pemilahnya juga," imbuhnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan, AA Kirana memastikan jajaranya akan mendukung desa-desa yang menjalankan program TOSS. Hingga saat ini, TOSS memang baru dapat diterapkan di 19 desa. Itupun dengan mesin lama yang memerlukan waktu lama untuk mencacah. "Memang kami akui mesin pencacah sampah yang dimiliki masih zaman dulu sehingga harus mencacah sampai tiga kali," ungkapnya sekaligus mengatakan di tahun 2020 mendatang program TOSS akan diterapkan di seluruh desa di Klungkung.

Untuk mendukung operasional TOSS saat ini, AA Kirana mengatakan pihaknya sudah membentuk program TOSS Center. Melalui program ini, Dinas sudah menyiapkan lahan seluas 4,5 hektare di Desa Karangdadi, Kecamatan Dawan. Lahan yang berdampingan dengan sawah tersebut akan dimanfaatkan untuk mengatasi masalah sampah yang terjadi selama ini.  “Pengolahan sampah ini akan dibuat berdampingan dengan pertanian. Karena program TOSS ini tidak  hanya menghasilkan pellet (bahan bakar listrik), tapi juga pupuk organik dengan metode Ozaki,” jelasnya.

Selain mematangkan program TOSS, Dinas LHP juga terus menggulirkan program Lubang Daur Ulang Sampah (Bangdaus) di setiap pekarangan rumah warga.

“Kami ingin merubah pola pikir warga agar mau memilah sampah di rumah. Karena kita tahu sangat sulit melakukan hal ini dalam waktu singkat,” imbuhnya sekaligus mengatakan pemerintah juga sudah menyiapkan 20 orang tenaga penyuluh. Tenaga ini siap memberikan pendampingan ke rumah-rumah warga mengenai cara memilah sampah dan menjalankan metode Bangdaus. (dia)