JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Meski Klungkung dikenal sukses menggulirkan program Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS), namun nyatanya di sejumlah desa, sampah justru masih menjadi masalah utama. Salah satunya, di desa wisata Kamasan.

Nyaris satu minggu lamanya, sampah-sampah rumah tangga menumpuk. Pihak desa mengaku kebingungan membuang sampah lantaran kerganjal lahan. 

Pantauan di lokasi, sejak sebelum Hari Raya Nyepi sampah di depan rumah warga sudah tidak diangkut. Bahkan hingga Minggu (10/3/2019), tumpukan sampah semakin tinggi. Aroma busuk pun mulai tercium dari sampah yang meluber sampai badan jalan. Ironisnya, karena tak adanya kejelasan mengenai kondisi tersebut, sejumlah warga terpaksa membuang sampah ke sungai terdekat. 

Menyikapi situasi ini, Perbekel Kamasan, IB Danendra mengaku sangat sedih. Dirinya menjelaskan, sebelumnya pihak desa diizinkan membuang sampah ke Kabupaten Gianyar. Namun, kini kondisinya sudah berbeda, tempat tersebut sudah ditutup. Sejak saat itulah, pihak Desa Kamasan kesulitan untuk mencari tempat penampungan. Sedangkan Desa Kamasan tidak memiliki lahan sebagai tempat pembungan sampah. 

"Sampah masih dikelola desa, tapi sekarang macet karena tidak ada tempat penampungan. Kita tidak punya lahan untuk tempat mengelola. Jadi pengangkutan sampah kita pending dari sebelum Nyepi. Dulu masih bisa buang ke Gianyar, sekarang sudah ditutup. Sedih sekali saya," ujar IB Danendra. 

Sejauh ini, IB Danendra mengaku sudah melakukan koordinasi dengan pihak Pemkab dan juga prajuru desa. Namun, belum ditemukan titik temu. Berkoordinasi dengan desa-desa tetangga yang menggulirkan program TOSS juga sudah, tetapi semuanya menolak karena keterbatasan tempat. "Sejak sebelum Nyepi kami sudah buat paruman ke seluruh kelian banjar, tapi belum ada soulusi," imbuhnya sekaligus meminta maaf dan mengatakan pasrah bila ada warga yang protes terkait kondisi ini. 

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung, AA Kirana menjelaskan pihak desa sudah sempat koordinasi mengenai permasalahan tersebut. Namun, dijelaskan saat ini Pemkab Klungkung pun mengalami persoalan serupa. Sejak operasional TPA Sente distop, Pemkab juga kesulitan mencari tempat penampungan. Oleh karena itu, AA Kirana menyarankan agar pihak desa mengatasi permasalahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Yakni setiap rumah tangga diharapkan bisa memilah sampah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik bisa dibawa ke bank-bank sampah terdekat. 

"Asal sudah terpilah beberapa tempat siap dibuangi. Kalau pupuk organik selama sudah pilahan murni banyak yang bisa terima. Bahkan ada yang mintak, seperti sampah tebangan pohon," jelasnya. Pihaknya pun meminta agar desa segera mengambil sikap atas permasalahan situasi darurat sampah ini. (dia)