JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Tahun ini, Kabupaten Klungkung telah meluncurkan 19 desa wisata. Sayangnya, belum semua desa yang ditetapkan berkembang optimal memikat wisatawan.

Oleh karena itu, Rabu (30/1/2019), Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta mendesak Dinas Pariwisata agar segera melakukan evaluasi terhadap desa wisata. Baik desa wisata di Klungkung daratan maupun di Nusa Penida, sehingga tidak ada desa wisata yang mati suri.

Hal tersebut diungkap Wabup Kasta saat berkunjung ke kantor Dinas Pariwisata Klungkung. Tak hanya mendorong evaluasi desa wisata, ia juga meminta agar semua desa wisata untuk segera membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai ujung tombak pengelolaan desa wisata.

Sedangkan terkait rencana pembentukan Desa Akah sebagai desa wisata, Wabup Kasta yang juga warga sekaligus tokoh di desa tersebut berharap Desa Wisata Akah dapat terwujud di tahun 2020 nanti. Desa Akah dengan sejumlah objeknya diharapkan dapat mengikuti jejak desa wisata lain yang sudah mampu berkembang. Untuk mendukung program ini, Wabup Kasta bahkan telah membentuk Komunitas Peduli Desa Akah (KOMPAK). "Komunitas ini (KOMPAK) melibatkan sekaa Truna dan nantinya akan bergerak menggali potensi desa wisata," terangnya. 

Perbekel Desa Akah, Nyoman Sujati menyampaikan, saat ini pihaknya sedang merancang desa wisata. Desa Akah dikatakan memiliki sejumlah objek yang potensial untuk dikembangkan sebagai wisata spiritual. Diantaranya Goa Panji Landung, Pura Beji sebagai tempat penglukatan, Makam kuno Dadong Guliang, serta jalur bersepeda dan tracking menyusuri tepi sungai dan pelosok desa. 

Kabid Sumber Daya Pariwisata, Tjokorda Gde Romy Tanaya mengatakan, sesuai Perbup nomor 2 tahun 2019 telah ditetapkan sebanyak 18 Desa Wisata di Kabupaten Klungkung. Yang mana 9 desa wisata berada di Klungkung Daratan dan 9 lainnya berada di kepulauan Nusa Penida. Dari 18 desa wisata tersebut baru terbentuk 9 Kelompok Sadar Wisata. Sejumlah desa yang telah ditetapkan sebagai desa wisata pun diakui belum mengalami perkembangan. Menurutnya hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan warga tentang pariwisata serta belum terbentuknya Pokdarwis yang merupakan ujung tombak pengolaan desa wisata. Kepada desa wisata yang belum membentuk Pokdarwis, Pihaknya akan segera mendorong desa wisata untuk membentuk Pokdarwis. (dia)