JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Jelang Saraswati, Puluhan Lontar Dikonservasi

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Jelang perayaan Hari Saraswati yang jatuh pada Sabtu (13/10/2018) mendatang, Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Klungkung makin gencar melakukan konservasi dan identifikasi lontar.

Sejak Rabu (3/10/2018) lalu, para penyuluh telah terjun ke rumah-rumah penduduk. Hasilnya, puluhan lontar wariga, usada serta kakawin berhasil 'diselamatkan'. 


Selasa (9/10) Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Klungkung, I Wayan Arta Diptha menyampaikan kegiatan serangkaian Hari Raya Saraswati ini bertajuk Bakti Saraswati. Fokus kegiatan merupakan identifikasi serta konservasi lontar yang disimpan oleh warga. Kegiatan yang dilangsungkan sejak tanggal 3-10 Oktober menyasar tiga desa. Yakni Desa Tojan, Kamasan, serta Timuhun. 

Di desa Tojan, konservasi lontar dilakukan di rumah milik I Gusti Ketut Dirga. Di sana para penyuluh berhasil mengidentifikasi 18 cakep lontar. Sedangkan untuk di Desa Kamasan, sebanyak 13 cakep lontar milik I Ketut Estrada Adhi Saputra yang diidentifikasi serta konservasi. Terakhir, pada Rabu (10/10) hari ini, para Penyuluh Bahasa Bali akan melakukan kegiatan serupa di Desa Timuhun. Tepatnya di rumah Jro Mangku Pasek Kaleran yang memiliki 12 cakep lontar. 

"Untuk lontar yang sudah kami identifikasi selama beberapa hari ini, sebagian besar merupakan lontar wariga, usada dan kakawin," ujarnya. 

Menurut Arta Diptha, identifikasi dan konservasi lontar memang selalu diintensifkan jelang Hari Raya Saraswati. Lantaran, bertepatan dengan peringatan hari turunya ilmu pengetahuan tersebut, Umat Hindu akan menggelar upacara ataupun menghaturkan banten untuk lontar-lontar yang disimpan.

"Saat Hari Raya Saraswati warga pasti menghaturkan sesajen atau banten pada lontar. Jadi sebaiknya sebelum diupacarai, dibersihkan dan dirawat terlebih dahulu," imbuhnya. 

Sayangnya, meski kegiatan Bakti Saraswati rutin digelar setiap enam bulan sekali, para Penyuluh Bahasa Bali kerap masih sulit memperoleh izin dari pemilik lontar. Berdasarkan pengalaman di lapangan, Arta Diptha mengatakan banyak warga yang masih menganggap lontar sebagai warisan leluhur yang pingit. Sehingga tidak boleh dibuka, apalagi sampai diidentifikasi ataupun dibersihkan. 

"Nampaknya kami harus lebih gencar mensosialisasikan program ini.  Mengingat masih banyak warga yang beranggapan lontar ini pingit dan tidak boleh di buka," ungkapnya. Iapun berharap, di hari-hari mendatang warga lebih terbuka. Sehingga warisan leluhur berupa lontar ini bisa dirawat dan 'diselamatkan'. (dia)