JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Sebanyak 17 ogoh-ogoh di Desa Adat Gelgel akan dilombakan pada malam pangerupukan, Rabu (2/3) mendatang. Uniknya, tak seperti lomba ogoh-ogoh pada umumnya, kali ini kriteria penilaian akan difokuskan pada ketaatan sekaa terhadap protokol kesehatan (Prokes).

Di samping itu, atraksi dan fragmen tari juga ditiadakan, sebagai antisipasi agar tak terjadi kerumunan penonton. Desa Adat Gelgel menjadi salah satu desa adat di Kabupaten Klungkung yang sigap menindaklanjuti edaran Gubernur Bali, I Wayan Koster terkait izin nyomya ogoh-ogoh. Bendesa Adat Gelgel, Putu Arimbawa, Selasa (22/2) menjelaskan, sejak pandemi Covid-19 muncul dua tahun lalu, pihaknya sudah membuat semacam perjanjian dengan para sekaa teruna. Bila mana, suatu saat keadaan membaik dan izin dari pemerintah terbit, maka ketika itu pula Desa Adat Gelgel akan menggelar lomba ogoh-ogoh. Oleh karena itu, ketika Gubernur Koster mengizinkan, maka pihaknya langsung menggelar rapat dengan sekaa teruna.

Semula, ada dua opsi yang dibahas dalam rapat. Opsi pertama, lomba ogoh-ogoh akan dilangsungkan dengan menggunakan ogoh-ogoh yang sudah dibuat dua tahun lalu. Kemudian, jumlah pengusungnya dibatasi 25 orang dan sebelumnya wajib melakukan rapid antigen dengan hasil negatif. Para pengusung juga harus menggunakan masker, tidak dalam pengaruh alkohol, serta taat dengan durasi (waktu) yang telah ditentukan oleh desa adat. Dengan opsi ini, maka Arimbawa menegaskan, kriteria penilaian lomba tidak berfokus pada ogoh-ogohnya, melainkan pada ketaatan sekaa menerapkan prokes. Sedangkan opsi kedua, yaitu perlombaan akan digelar tanpa pengarakkan. Melainkan penilaian di tempat, sehingga untuk opsi ini, kriteria penilaian fokus pada ogoh-ogoh. Mulai dari bahan, harmonisasi, dan juga narasinya.

Nah, setelah dilakukan voting, ternyata ada 15 sekaa yang memilih opsi pertama dan hanya 2 sekaa yang memilih opsi kedua. "Dari voting tersebut disepakati opsi pertama. Sehingga mengacu pada ketentuan, maka tidak ada indikator penilaian pada ogoh-ogoh, tapi pada prokesnya. Indikator penilaian memiliki bobot berbeda-beda. Rapid bobotnya 30 persen, pakai masker 30 persen, tanpa alkohol 20 persen, dan ketepatan waktu 20 persen," jelasnya.

Sejauh ini, Arimbawa mengatakan sudah ada 17 dari 20 sekaa teruna yang ada di Desa Adat Gelgel mendaftar dalam lomba tersebut. Sebanyak 3 sekaa teruna tidak berpartisipasi karena 2 sekaa sebelumnya sudah membakar ogoh-ogohnya dan 1 sekaa lagi terkendala jarak. Sementara, untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan penonton, Arimbawa menyampaikan saat lomba, ogoh-ogoh hanya akan diusung tanpa diiringi atraksi di titik-titik tertentu. Hal ini diharapkan dapat menghindari kerumunan, dan masyarakat dapat menonton dengan tertib dari depan rumahnya masing-masing. "Kita tiadakan atraksi, karena kalau ada atraksi masyarakat akan kumpul di titik tertentu. Kalau hanya jalan kan mereka nonton dari depan rumah masing-masing. Itu upaya kami antisipasi kerumunan," jelasnya.

Lebih lanjut terkait hadiah, Arimbawa mengungkap hadiah lomba tahun ini ditingkatkan. Yang mana juara I akan diberi hadiah Rp10 juta, juara II sebesar Rp7,5 juta, serta juara III sebesar Rp5 juta. Dijelaskan, jika sebelum pandemi hadiah untuk juara I hanyalah sebesar Rp7,5 juta, nah tahun ini ditingkatkan dengan pertimbangan anggota sekaa harus melakukan rapid tes antigen. Diharapkan, peningkatan hadiah tersebut dapat meringankan biaya rapid antigen yang harus dikeluarkan oleh masing-masing sekaa teruna.

"Sekarang hadiah juara I Rp10 juta, karena kita asumsikan sekaa harus rapid tes. Dengan estimasi harga Rp100 ribu perorang, maka rata-rata sekaa akan mengeluarkan biaya Rp2,5 juta untuk rapid. Sekaa boleh tidak menyertakan hasil rapid, tapi wajib memiliki bukti vaksin dosis 3. Di samping itu, jika tidak rapid maka mereka akan kehilangan poin 30 persen sesuai kriteria perlombaan," ungkap Arimbawa. (dia)

BERITA TERKINI