JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography
SEMARAPURA - fajarbali.com | Sejak beberapa hari terkahir harga kedelai di Kabupaten Klungkung mengalami kenaikan. Hal ini tentunya membuat banyak pengusaha tempe dan tahu kelimpungan. Apalagi di masa pandemi Covid-19, beban yang mereka rasakan kian berat. Untuk menutupi biaya produksi, para pengusaha pun terpaksa menyiasati kenaikan bahan baku dengan memperkecil ukuran tahu dan tempenya.



Kondisi tersebut salah satunya dialami oleh I Nengah Sondra. Seorang pengusaha tempe dan tahu asal Banjar Grombong, Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Klungkung. Ia menuturkan, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak beberapa hari lalu. Kedelai yang semula seharga Rp7.000 per kilogram, kini merangkak naik menjadi Rp9.500 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku tempe dan tahu yang cukup signifikan ini sempat membuat Sondra dilema. Lantaran jika harga jual tidak dinaikkan, maka tentu ia akan mengalami kerugian. Sebaliknya, jika harga tahu dan tempe naik, sudah pasti banyak pembeli yang akan mengeluh. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

"Harga bahan baku yang tinggi tentu membuat pengusaha kecil seperti kami semakin sulit. Sekarang kami hanya berusaha agar produksi tetap jalan saja," ungkapnya.

Satu-satunya cara yang dipikirkan oleh Sondra untuk menyelamatkan usahanya adalah dengan mengubah ukuran tahu dan tempe buatannya. Ukuran dibuat lebih kecil, namun dijual dengan harga yang sama. Selain itu, pria yang sehari-hari membuat tahu dengan cara tradisional ini juga mengurangi jumlah produksinya. Walaupun permintaan pasar tinggi, tetapi ia tak sanggup membeli bahan baku dalam jumlah yang banyak.

Disampaikan, dulu sebelum harga kedelai menembus angka Rp9.500 perkilogram, Sondra sehari-hari membutuhkan sekitar 500 kilogram kedelai untuk memproduksi tahu dan tempe. Namun kini, dirinya hanya sanggup membuat tempe dan kedelai dengan bahan baku 250 kilogram kedelai. Menurutnya, meski jumlahnya berkurang hingga 50 persen, Sondra tetap bersyukur asalkan usahanya masih bisa berproduksi.

"Permintaan pasar masih tinggi. Tapi saya tidak mampu membeli bahan baku. Sekarang intinya biar usaha saya jalan saja. Tidak mungkin juga saya menaikkan harga," tuturnya. (dia).