JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography
SEMARAPURA - fajarbali.com | Asap mengepul, menembus celah-celah atap ilalang di Gubuk tua milik pasangan suami istri, Made Kama dan Ni Wayan Cablik.


Kala itu, matahari mulai meninggi, dan Ni Wayan Cablik baru saja usai memasak ala kadarnya. Sudah puluhan tahun, pasutri lansia ini hidup di gubuk beralas tanah. Jangan tanyakan bagaimana kondisinya? Karena di gubuk yang sekaligus dapur itulah Made Kama bersama istri dan putranya, I Made Putra (29) setiap hari melewati siang dan malam. Tanpa sambungan listrik, bahkan untuk minumpun kerap mengandalkan air hujan.

Ni Wayan Cablik tegesa-gesa mengambil maskernya di kala Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta bersama Ny. Ayu Suwirta dan instansi terkait yang sedang melakukan kegiatan bedah desa bertamu ke gubuknya di Dusun Sompang, Desa Bunga Mekar, Nusa Penida, Klungkung, Jumat (6/11/2020). Sorot matanya menerawang, saat menurutkan siang malam harus tidur di gubuk berdinding tanah dan anyaman bambu tersebut. Karena bangunan sangat sempit, biasanya hanya Wayan Cablik dan suaminya yang bermalam di sana. Sedangkan anaknya, Made Putra kerap menginap di rumah pamannya.

"Saya tidur dan juga memasak di sini. Karena sudah terbiasa jadi tidak merasa sesak," ujarnya sambil menunjukkan tungku api di samping tempat tidur dipannya.



Tidak ada aliran listrik di sana, kadang di kala memerlukan lampu penerangan, Wayan Cablik harus meminta aliran listrik melalui kabel yang disambungkan ke rumah kerabatnya. Demikian juga dengan air bersih. Bahkan Wayan Cablik lebih sering memasak ataupun minum dengan memanfaatkan air hujan yang ditadahnya dalam sebuah gentong tanah.

Penghasilan Wayan Cablik yang hanya memelihara beberapa ekor babi dan suaminya sebagai petani penggarap tentu tak mencukupi untuk memasang sambungan listrik dan air. Sedangkan anaknya, Made Putra yang sebelumnya menjual kelapa muda kini sudah tak bekerja lagi. Tepatnya sejak pandemi Covid-19, hingga tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida. "Dulu saya cari kelapa muda lalu dijual ke warung-warung, tapi sekarang tidak ada tamu jadi tidak kerja lagi," ujar Putra yang mengaku hanya bersekolah hingga jenjang SD saja.

Kepala Dusun Sompang, I Ketut Merta yang turut mendampingi bupati saat bedah desa tersebut menjelaskan, keluarga Wayan Cablik memang sudah terdata sebagai KK miskin. Hanya saja, untuk bantuan bedah rumah yang sudah diusulkan, tidak bisa direalisasikan tahun ini. Sehingga pihaknya berencana untuk mengusulkan kembali di tahun 2021 mendatang.

Sementara Bupati Suwirta yang melihat langsung kondisi warganya tersebut langsung menugaskan Dinas Sosial untuk melakukan pendataan dan memprioritaskan keluarga Wayan Cablik agar mendapatkan bantuan bedah rumah.
"Mereka tinggal bertiga tempatnya cuma segini. Bapak dan ibunya di sini, dapur dan tempt tidur jadi satu. Ini tentu tidak sehat dan saya sayangkan ini sampai terjadi. Desa harus lebih kenceng usulkan data," tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan, jika menunggu proses penganggaran di APBD bisa memakan waktu panjang, maka pihak desa diminta untuk memanfaatkan Alokasi Dana Desa (ADD) atau dana desa terlebih dahulu. Bupati Suwira menyampaikan di tahun 2021 anggaran tersebut diprioritaskan pada persoalan dan pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu bisa juga dimanfaatkan untuk bantuan bedah rumah. "Jangan pikirkan gang atau jalan, biarkan itu urusan pemerintah kabupaten. Tahun berikutnya saya tidak mau lihat ada warga kita yang seperti ini lagi," pintanya. (dia).