JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography
SEMARAPURA - fajarbali.com | Pandemi Covid-19 tak hanya meruntuhkan sektor pariwisata, tetapi dunia usaha juga tak kalah babak belur. Sejak enam bulan lalu, para peternak bebek di Dusun Lepang, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung harus berjuang keras. Permintaan pasar terus menurun dan harga telur juga anjlok. Demi menutupi kerugian dan mempertahankan usahanya, para peternak harus merelakan menjual bebek peliharaannya.


Made Sumarta salah seorang peternak bebek asal Dusun Lepang, Kamis (5/11/2020) menuturkan, pandemi Covid-19 telah membuat usahanya berada di titik terendah. Sudah enam bulan, penjualan telur bebek menurun drastis. Salah satu pemicunya karena upacara keagamaan yang biasanya memerlukan banyak telur kini dibatasi. Kondisi itu juga diperparah dengan banyaknya saingan yang datang dari Pulau Jawa.

"Penyebab tidak hanya karena Covid-19, tetapi juga karena ada telur datang dari Jawa. Hal itu membuat harga telur di Bali tidak stabil," ungkapnya.

Dalam sehari, bebek-bebek peliharaan Sumarta bisa memproduksi 1200-1500 butir telur. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, telur-telur tersebut selalu habis terjual di Pasar Galiran, Klungkung maupun pasar tradisional yang ada di Kabupaten Gianyar. Namun kini, situasinya berubah, perminataan pasar menyusut dan harga jual telurpun anjlok.
"Sekarang harga telur bebek Rp1.700 -1.800 perbutir. Sekitar 20 hari lalu harga benar-benar turun mencapai Rp1200 perbutir. Padahal harga normal sebelum Covid-19 bisa Rp2.200-2.500 perbutir," ujarnya tak bersemangat.

Diungkapkan, jika harga telur bebek di bawah Rp1.500 perbutir, sudah dipastikan para peternak akan mengalami kerugian. Apalagi saat ini harga pakan masih tinggi. Yakni Rp400 Ribu persaknya. Itupun pembelian dilakukan di luar Bali, yakni dari Sumbawa atau Pulau Jawa. Sehingga jika harga telur di bawah standar, maka para peternak tidak bisa menutupi biaya operasional.

Meski demikian, Sumarta masih tetap berupaya untuk mempertahankan usahanya tersebut. Berbagai upaya dilakukan agar kerugian tidak semakin melebar. Salah satunya dengan menjual bebek-bebek yang sudah afkir. Di samping itu, telur-telur yang tidak laku juga didiamkan untuk ditetaskan. "Sekarang ini bebek yang sudah afkir saya dijual untuk menutupi kerugian lebih besar. Di samping itu sisa telur yang tidak terjual dipakai untuk ditetaskan," imbuhnya seraya mengatakan masih ada sekitar 30 peternak bebek di Dusun Lepang yang berusaha bertahan di masa pandemi ini. (dia).