JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography
SEMARAPURA - fajarbali.com | Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung makin serius untuk mengembangkan budidaya Kele sebagai produk unggulan desa.



Apalagi di masa pandemi ini, permintaan madu terus meningkat. Sayangnya, jumlah koloni/sarang Kele yang terbatas jumlah produksipun tidak optimal. Karena itu, di tahun 2021 mendatang, Desa Aan berencana memanfaatkan APBDes untuk mengembangkan budidaya Kele yang memiliki nilai jual tinggi tersebut.

Perbekel Aan, I Wayan Wira Adnyana, Minggu (25/10/2020) mengatakan, budidaya Kele ini sudah dirintis sejak tahun 2019 lalu. Diawali oleh
Kelompok Sari Amerta yang beranggotakan 20 orang. Sejak itu, kelompok Sari Amerta merawat 100 koloni (rumah) Kele dan hingga kini sudah dua kali panen. Sekali panen, dari 100 rumah Kele tersebut, didapatkan sebanyak 3 liter madu. Madu dijual dengan harga Rp.100.000 per kemasan 100 ml.

Nah, di masa pandemi seperti sekarang ini, permintaan terhadap madu Kele sangat tinggi. Namun, karena keterbatasan jumlah produksi, tidak semua permintaan pasar bisa dilayani.
Melihat peluang tersebut, Wira Adnyana mengatakan di tahun 2021 mendatang, pihaknya sudah mengusulkan agar budidya Kele bisa lebih dikembangkan. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga menjadikan madu Kele ini sebagai produk unggulan desa.

Walau belum merinci besaran anggaran yang akan diusulkan di APBDes 2021, namun Wira Adnyana sudah memasang target untuk menambah jumlah koloni. Dikatakan, agar produksi madu bisa lebih cepat, maka koloni baru harus sudah berisi ratunya. "Satu koloni yang sudah isi ratunya biayanya Rp150 Ribu. Dari segi investasi memang biayanya tidak terlalu banyak, cuma saya masih lihat dulu pendapat BPD. Angka (nominal) usulan biaya belum saya rancang tapi program untuk produk unggulan sudah masuk untuk 2021," katanya.

Sebagai persiapan, saat ini Wira Adnyana sedang melakukan survei ke rumah-rumah penduduk. Selain memastikan kesanggupan warganya, pihak desa juga mengecek ketersediaan sumber makanan untuk Kele. Seperti lahan tegalan yang masih asri dan ditumbuhi pohon kelapa atau buah-buahan lainnya. "Saya survei lahan-lahan penduduk yang bisa dimanfaatkan dan kesanggupan pemilik lahan. Mau pelihara atau tidak, nanti hasil bisa dibagi dua. Kami masih survei dulu. Rencananya nanti budidaya akan dipusatkan di Subak Abian Watu Giri di Banjar Petapan, Desa Aan," sambungnya.

Sementara itu, pada Sabtu (24/10/2020), Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta juga sempat meninjau budidaya Kele tersebut.
Dalam kunjungannya itu, Bupati Suwirta juga sempat memanen madu Kele. Terungkap pula bahwa panen Kele tidaklah selalu membuahkan hasil.
Hal ini diakibatkan karena beberapa koloni diserang oleh hama (kumbang kecil) sehingga kotak/sarangnya ditinggalkan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Suwirta juga mengapresiasi karena banyak warga yang sudah berinovasi dan membangun sebuah usaha dengan merangkul sejumlah warga. Pihaknya mengaku akan membantu dan mengawal usaha madu Kele ini dalam pengurusan izin dan SNI. Untuk mengatasi kendala terbatasnya produksi, pihaknya mendorong kelompok budidaya untuk menggandeng peternak lebah Kele lain. Dirinya juga berjanji akan berupaya membantu dalam pemasaran hingga bisa masuk ke toko modern. Kedepan, melalui dinas Perindustrian, pemerintah kabupaten Klungkung akan menggelar pelatihan wira usaha baru. Dengan demikian diharapkan para pelaku industri bisa lebih memiliki pengetahuan dibidang pemasaran sehingga produk yabg dipasarkan akan lebih terkenal dan laku. (dia).