KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA-fajarbali.com | Jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kelangkaan ternak babi di Kabupaten Klungkung mulai menghantui. Mengingat populasi babi menurun drastis sejak virus
African Swine Afever (ASF) mewabah pada awal tahun. Meski demikian, Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Klungkung memastikan kondisi ini tidak akan memicu kenaikan harga daging babi secara drastis di pasaran.

Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Klungkung bersama instansi terkait, Rabu (9/9/2020) melakukan monitoring ke sejumlah peternakan babi di Kecamatan Klungkung. Hasilnya, berdasarkan pantauan di sentra peternakan babi di wilayah Batu Tabih dan Bajing, populasi babi memang menurun drastis. Hal itu tidak hanya disebabkan oleh virus ASF tetapi diperparah pula oleh dampak pandemi Covid-19.

"Merebaknya virus babi menyebabkan peternak mengalami kerugian yang sangat besar. Sehingga saat ini peternak masih berpikir ulang untuk memulai usahanya. Apalagi perkembangan perekonomian yang kurang menentu karena pandemi Covid-19," ungkap Kasubag Perekonomian, Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Klungkung, Tjok Istri Agung Wiradnyani.

Berdasarkan hasil pemantauan, dari beberapa peternakan yang dikunjungi, kapasitas kandang babi yang sebelumnya terisi antara 100-1.000 ekor, saat ini hanya terisi kurang dari 50 persen. Bahkan ada yang kosong. Demikian juga dengan babi indukan, pada saat situasi normal peternak bisa memelihara antara 50-100 ekor, namun saat ini kosong.

Tjok Wiradnyani menyampaikan, meski populasi babi menurun, kondisi ini diperkirakan tidak akan menyebabkan kurangnya pasokan babi di pasaran. Utamanya menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Kebutuhan babi untuk hari raya dikatakan masih aman. Demikian juga dengan harganya. Saat ini harga daging babi hidup di kisaran Rp36.000 per Kilogram. Menjelang Galungan harga diperkirakan hanya naik sekitar Rp1.000-Rp2.000 per Kilogram. "Menurunnya jumlah populasi ternak babi di Kabupaten Klungkung ini diperkirakan tidak akan sampai berdampak pada kekurangan pasokan di pasaran," imbuhnya.

Selain memantau ketersedian ternak babi, di hari yang sama tim juga memonitoring harga dan ketersedian ayam petelur. Dikatakan, produksi telur ayam ras terpantau cukup banyak. Di daerah Bajing diperkirakan ada sekitar kurang lebih 7 peternak ayam petelur dengan rata-rata jumlah ayam yang dipelihara antara 5000-10 000 ekor. Jumlah produksi setiap peternak setiap hari sekitar 5000-9000 butir atau sekitar 2,4 ton per hari.

Jumlah ini diyakini dapat memenuhi kebutuhan di pasaran. Meskipun baik produksi telur maupun daging babi yang dihasilkan peternak tidak hanya dipasarkan di wilayah Klungkung. Tetapi juga hingga ke Denpasar serta Nusa Tenggara Timur (NTT). "Produksi ternak babi dan ayam petelur di wilayah Kecamatan Klungkung tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di Klungkung saja, akan tetapi untuk daerah lain salah satunya ke NTT. Selain itu produksi ternak babi ada juga yang dikirim ke daerah Nusa Dua dan beberapa perusahaan di Denpasar," sambungnya. (dia)