JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KLUNGKUNG
Typography

SEMARAPURA - fajarbali.com | Bertahun-tahun ratusan hektar lahan pertanian di Subak Timuhun, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung terbengkalai.

Minimnya debit air di bendungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Melangit di Sungai Bubuh menjadi pemicunya. Sawah-sawah petani dilanda kekeringan, hingga tak bisa lagi digunakan bercocok tanam.

Rabu (5/8/2020), Anak Agung Gede Yuliantara, salah seorang warga mengatakan, memurunya debit air di bendungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Melangit di Sungai Bubuh yang terletak di sebelah barat Desa Timuhun terjadi sejak desa-desa lain membangun bendungan terlebih dahulu. Di samping itu, debit air yang dialihkan sebagai sumber air minum juga diyakini sangat berdampak pada satu-satunya sumber air irigasi petani tersebut. Akibatnya, jangankan untuk menanam padi, untuk sekadar menyemai bibit palawija saja sudah kini petani tidak bisa.

Untuk mengakhiri permasalahan tersebut, krama subak sudah sepakat untuk mengajukan permohonan pembangunan bendungan ke Pemerintah Provinsi Bali. "Proposal sudah kami ajukan sejak Bulan Juli 2020. Proposal itu diteken oleh Klian Subak Desa Timuhun, Perbekel Timuhun, Camat Banjarangkan, dan Penggagas Pembangunan. Surat juga sudah ditandatangani oleh Pak Bupati," ujarnya.
Surat permohonan tersebut ditembuskan ke delapan pihak. Diantaranya, kepada Ketua DPRD Provinsi Bali, Dinas PU Provinsi Bali, serta Kepala Bappeda Kabupaten Klungkung.

Berbeda dengan sumber air irigasi sebelumnya, dalam proposal tersebut Yuliantara bersama warga lainnya mengusulkan pembangunan bendungan dengan memanfaatkan aliran air dari Sungai Jinah yang posisinya berada di sebelah timur Desa Timuhun. Katanya, debit air sungai tersebut cukup tinggi. Bahkan selama ini, aliran air terbuang sia-sia ke lautan. "Kami lihat air di Tukad Jinah banyak terbuang ke laut. Alangkah baiknya dibuatkan bendungan untuk aliri pertanian di desa kami," usulnya.

Lebih lanjut disampaikan, apabila pembangunan bendungan ini bisa terealisasi, maka petani di Subak Timuhun dipastikan bisa beraktivitas kembali. Seluas 156,83 hektar lahan persawahan juga dapat dipulihkan. Termasuk 747,11 hektar tegalan dan lahan kering yang selama ini terbengkalai. "Semoga usulan ini bisa teralisasi sehingga sawah petani produktif kembali," harapnya. (dia).