KARANGASEM
Typography

AMLAPURA-fajarbali.com | Potret kemiskinan di Karangasem tidak saja mereka yang bermukim di wilayah lereng-lereng gunung, tetapi di wilayah perkotaan pun kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Salah satu contohnya, pasangan suami istri asal banjar Werdhi Guna, Jasri Kaler, Kelurahan Subagan, kecamatan Karangasem, Komang Jumiarta (36) dan Ni Nengah Kariyani. Mereka pun terpaksa harus tidur di teras rumahnya mengingat kamar tidur mereka mengalami kebocoran bahkan nyaris ambruk.

Untuk mencapai tempat tinggal pasutri ini terbilang cukup mudah. Bahkan, lokasinya berada tidak jauh dari ruas jalan Nasional Amlapura-Klungkung. Hanya saja, harus menyusuri gang sempit seukuran sepeda motor. Saat dilokasi, terdapat tiga bangunan yang kondisinya hampir sama. Disanalah, Komang Jumiarta tinggal bersama istri dan anak, serta kedua orang tuanya. Dengan tertatih, Istri Komang Jumiarta menyapa koran ini dengan penuh hangat. Tidak ada barang elektronik, dan terlihat rumah yang ditempati Komang Jumiarta atapnya hampir ambruk. Begitupula keadaan dapur pasutri ini, juga lebih parah. Tanpa dinding,dan hanya atap seadanya sehingga terlihat seperti bukan tempat untuk memasak.

Istri dari Komang Jumiarta yakni, Ni Nengah kariyani mengalami cacat pada kaki karena polio, dan hanya bisa tinggal dirumah dengan tongkat. Ironisnya, disaat kondisi sang istri mengalami polio, beberapa bulan lalu ditabrak sepeda motor yang membuat istri harus memangakai tongkat. "Tidak bisa kemana-kemana, kalau dulu sebelum ditabrak masih bisa bantu-bantu cari nafkah," ujar Komang Jumiarta, Kamis (16/5).

Jumiarta juga menuturkan, untuk menutupi kehidupanya setiap hari, Komang Jumiarta hanya sebagai pekerja serabutan yang tak jelas hasilnya. Terkasang, Jumiarta hanya mengantongi uang Rp 50 ribu dari bekerja mengangkut  buah kelapa. Ia pun harus menghidupi dua orang anak yang masih kecil. Ia dibantu oleh istri membuat cemper (sarana persembahyangan) dari daun kelapa. Yang tentunya, hasilnya pun tidak seberapa. "Ya hanya itu bisa dikerjakan, itupun dapatnya tidak tentu," ujarnya. (dia)

Jumiarta mengaku, penghasilanya hanya cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Sehingga, kondisi tempat tinggalnya dibiarkan seperti tidak terurus. Bangunan yang terbuat dari genteng itu juga nyari ambruk dan bocor. Jumiarta mengakui, mereka harus tidur di teras karena tidak berani tidur dalam kamar. "Takut kalau di kamar, apalagi kondisi istri memakai tongkat," ujarnya.

Mereka pun berharap, ada bantuan bedah rumah yang tentunya bisa dipakai melelpas lelah dengan nyaman. Tidak seperti sekarang, harus tidur di emperan.