JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Museum Lontar Desa Dukuh Penaban Jadi Lokasi Kunjungan Mahasiswa

KARANGASEM
Typography

AMLAPURA-fajarbali.com | Keberadaan museum lontar di desa adat Dukuh Penaban, Kelurahan Karangasem makin hari terus menjadi lokasi pembelajaran bagi kalangan akademisi, maupun masyarakat yang ingin mengenal lontar.

Seperti pada Selasa (6/11/2018), sekitar 30 orang mahasiswa asal Universitas Sebelas Maret, Surakarta, melakukan kuliah kerja lapangan ke Museum Lontar. Sebelumnya, hal serupa juga dilakukan oleh Mahasiswa S2 dari Universitas  Melbourne, Australia melaksanakan workshop di museum ini.

Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, didampingi penyarikan I Nengah Sudana Wiryawan, mengatakan, biasanya para mahasiswa ini berkunjung ke museum lontar untuk melihat dan melakukan penelitian tentang koleksi lontar yang ada di museum Lontar. Bahkan, di museum lontar juga diberikan kuliah umum tentang proses pembuatan kertas daun lontar sampai siap ditulisi oleh salah satu kurator museum, I Dewa Gde Catra. "Mereka kita berikan bagaiamana proses pembuatan kertas lontar dari bahan baku sampai lontar itu bisa ditulisi," ujar Suarya. 

Suarya mengatakan, pengunjung juga diberikan cara merawat dan mengkonservasi lontar serta menuliskan nama peserta dengan aksara Bali. Suarya juga mengatakan, pihaknya menyambut gembira kedatangan para mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta Fakultas ilmu sosial politik, program DIII Perpustakaan. Dipilihnya museum milik komunitas desa adat Dukuh penaban sebagai tempat pembelajaran oleh para mahasiswa, sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan keberadaan koleksi lontar yang ada di Dukuh Penaban. "Tujuan kita membangun museum ini selain sebagai tempat untuk melakukan penelitian, juga untuk memperkenalkan lontar pada generasi muda," ujarnya lagi. 

Kunjungan mahasiswa ke museum lontar ini, lebih banyak untuk mengetahui koleksi  lontar dan juga cara pembuatanya. Ia juga mengatakan, mahasiswa yang datang tidak hanya dari Indonesia. Bahkan, ada juga dari luar negeri. "Waktu ini juga mahasiswa S2 dari Universitas Melbourne, Australia, mereka  melaksanakan workshop di museum ini," ujarnya. 

Tidak saja dari kalangan mahasiswa, Suarya menyebut, museum lontar juga kerap dikunjungi wisatawan asal mancanegara. Pihaknya berharap, kedepan museum lontar bisa menjadi salah satu tempat beriwisata sambil belajar. Apalagi, keberadaan lontar di kalangan generasi muda semakin ditinggalkan. "Tujuan kita kan untuk pelestarian dan pengenalan lontar kepada generasi muda," ujarnya lagi. (bud)