JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KARANGASEM
Typography

Amlapura-fajarbali.com|Untuk mendengar keluhan masyarakat, selain melaksanakan program bupati menyapa, Bupati Karangasem I Gede Dana, juga langsung menginap disalah satu warga kurang mampu. Hal itu dilaksanakan pada Selasa (3/5) usai memaparkan program pembangunan dan menyerap aspirasi masyarakat di Desa Ababi. Bupati menginap di salah satu warga kurang mampu, I Wayan Pasek (70) asal Banjar Dinas Gunaksa,Desa Ababi,Kecamatan Abang,Karangasem. 

Menginap di rumah warga sendiri telah dilakukan berkali-kali. Namun yang berbeda kali ini, menginap dilaksanakan begitu usai memaparkan program pembangunan pemerintah dan menyerap aspirasi.Warga tempat bupati menginap merupakan warga kurang mampu. Bupati Gede Dana sendiri datang kerumah Wayan Pasek sekitar pukul 19.00 wita, sambil menikmati hidangan gayas, bupati juga tampak berbincang dengan Wayan Pasek dan keluarga. Bupati sendiri tidur disalah satu "ampik" yang ada di belakang rumah Wayan Pasek sekitar pukul 22.30 wita. 

Sekitar pukul 05.00 wita pagi hari, bupati sudah bangun dengan langsung menuju ke dapur untuk membaut air hangat sambil membakar ubi ketela sebagai yang disantap sambil Ngopi pagi. Usai itu,bupati juga menyerahkan sembako kepada keluarga Wayan Pasek. Bupati Karangasem,I Gede Dana menyampaikan, menginap di rumah penduduk telah dilaksanakan jauh sebelum menjadi bupati. Hari ini, katanya, kebetulan cuti bersama sekaligus menyerap aspirasi. "Ada tambahan yang didapat,bahwa kondisi sekarang perekonomian bertambah sulit," ujar Gede Dana. 

Gede Dana mengatakan, dengan tambahan aspirasi itu,setidaknya nantinya bisa mengeluarkan program yang bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu. Tidak cukup hanya memberikan sembako saja,namun diperlukan program yang bisa merubah kehidupan masyarakat. "Terkait rumah,untuk diberikan bedah rumah tentu harus lahan milik sendiri,tetapi ini lahanya milik orang lain,sehingga nanti kita arahkan untuk mendapat bantuan rehab rumah," ujarnya. 

Sementara itu, Wayan Pasek tinggal bersama istri Ni Ketut Rai dan salah seorang anaknya,Nyoman Yasa. Keluarga yang tinggal di lahan milik orang ini,menggantungkan hidup sebagai tukang panjat kelapa. Sedangkan, Wayan Pasek dan Ni Ketut Rai sendiri lebih banyak tinggal di rumah lantaran faktor usia. "Ada enam orang anak, tetapi hanya satu yang masih tinggal dirumah,sisanya ada merantau," ujar Ni Ketut Rai. 

Dikatakan Ni Ketut Rai,untuk memenuhi kebutuhan hidup, selain di bantu oleh anak-anaknya, juga bergantung sama Nyoman Yasa yang berprofesi sebagai tukang panjat kelapa. Dari hasil menjadi tukang panjat kelapa, hanya bisa untuk bertahan hidup karena tidak tentu ada orang yang mencari tukang panjat. "Kadang seminggu dua kali, setiap kali bisa sampai 35 pohon dengan upah Rp 6000 per pohon," ujarnya. 

Atas kedatangan bupati I Gede Dana yang menginap dirumahnya, menurut Wayan Pasek,dirinya cukup terkejut bupati datang secara tiba-tiba. "Tumben pejabat (bupati) yang mau menginap di rumah seperti ini, terimakasih pak bupati sudah mau menginap dirumah ini," ujarnya lagi. (bud)

BERITA TERKINI