JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR - fajarbali.com | Adanya pandemi Covid 19 membuat ekspor gazebo (balai bengong dari bambu) capai titik nol. Bahkan gazebo yang sudah selesai digarap terpaksa digudangkan karena tidak bisa dikirim karena negara tujuan ekspor. 

Menyiasati kelesuan ekspor, hampir semua pekerja kerajinan bambu menjual bilah bambu sebagai bahan layang-layang. Bambu yang digunakan adalah bambu petung ukuran besar dan yang sudah tua. Salah satu penjual bilah bambu layangan asal Banjar Kebon Kaja, Desa Belega, Wayan Sukarma menyebutkan bambu bahan gazebo terpaksa dijual untuk bilah layangan. “Kami disini memanfaatkan peluang, bambunya kami jual untuk bahan layangan,” jelas Wayan Sukarma, Selasa (30/6/2020). 

Bambu Petung didatangkan dari Kabupaten Tabanan dan dijual dengan berbagai variasi panjang. “Perbilah yang pendek dijual Rp 20 ribu dan ada yang sampai Rp 50ribu perbilah,” jelasnya. Disebutnya, mestinya bambu tersebut untuk bahan gazebo, namun karena bilahan permintaan banyak, maka dijual saja. Selain menjual bilahan bambu, Sukarma bersama putranya, Putu Dedi Gunawan membuat layang-layang jenis Celepuk dan Be-bean. “Sorenya sehabis jualan, kami sekeluarga membuat layangan, ada sejumlah pesanan dari kabupaten lain,” jelas Dedi Gunawan. 

Bahkan dikatakannya, penjualan katik sate untuk upacara juga mengalami kelesuan penjualan. Disebutnya, upacara yadnya sangat menurun penyelenggaraannya, sampai jualan katik sate juga mengalami kelesuan. Sedangkan layangan Celepuk yang kecil dijual Rp 25ribu sampai Rp 35ribu per buahnya. Sedangkan layangan Be-bean dijual paling murag Rp 25ribu sampai Rp 100rb, tergantung ukuran. “Kami memanfaatkan situasi, kebetulan musim layangan, kami beralih profesi sementara,” Jelasnya. 

Perbekel Belega, Ketur Trisnu Jaya mengapresiasi warganya yang bisa mendulang rupiah di masa pandemi. Dikatakannya ada sekitar 75 pekerja bambu untuk gazebo dipulangkan, sehingga kini beralih menjual bilah bambu dan layangan. “Pekerja gazebo bambu ada yang kerja di NTT, Lombok dan sekitar Bali, semua dipulangkan, sehingga beralih membuat layangan,” jelas Trisnu Jaya. Dengan mengambil peluang yang ada, sehingga mampu menghidupi keluarga. Dikatakannya, banyak pekerja kerajinan bamboo dirumahkan, namun karena bisa mengambil peluang, pekerja tersebut bisa meraup rupiah.

Diakuinya, ekspor kerajinan bambu Belega saat ini ada pada titik nol. “Ekspor kerajinan bambu sudah mati suri, hampir semua eksportir merumahkan karyawannya,” beber Trisnu Jaya. Walau demikian, warganya bisa mengambil peluang, sehingga tidak menganggur sama sekali. Dikatakannya lagi Desa Belega yang sampai saat ini zero kasus covid 19, seluruh elemen bersatu melakukan protokol Kesehatan.(gds).