GIANYAR
Typography

GIANYAR - fajarbali.com | Salah satu peneliti pohoin Bambu di Bali yang juga akademi UNUD berharap lahan-lahan kritis di Bali bias ditanami pohon Bambu. Dikatakan Dr. Pande Ketut Diah Kencana Wati beberapa waktu lalu, Bali memiliki sejumlah wilayah yang kritis lahan. “Bali memiliki sejumlah titik lahan kritis, harapan saya ditanami Bambu,” jelasnya.

 

 

Dikatakan perempuan yang sudah meneliti Bambu belasan tahun ini, Bambu memiliki sejumlah manfaat ekonomis bila dikelola secara maksimal. “Selain sebagai bahan bangunan, bambu juga bias sebagai sumber pangan (sayur rebung), bahan kosmetik, alat music, furniture sampai ke kain,” ungkapnya. Harapan kami, pemerintah melalui Gubernur Bali, bisa memelopori pemanfaatan lahan kritis untuk ditanami Bambu atau tanaman lain yang bias menghijaukan. Disebutnya juga, tanaman bamboo bias menyerap O2 yang baik dan sebagai penyimpan cadangan air dalam tanah.

 

Diungkapkannya pula, Bali sendiri memiliki satu species bambu yang juga bias dikonsumsi sebagai sayur, yaitu Bambu Tabah. Bambu ini terdapat di Buleleng, Tabanan, Gianyar dan wilayah lainnya. Sedangkan di Indonesia sendiri terdapat sekitar 200-an species bamboo dan bias hidup dari dari dataran rendah sampai pegunungan. “Penanaman mudah, pemeliharaan dan hamanya relative tidak ada, sehingga cocok untuk lahan kritis,” ungkapnya lagi.

 

Disisi lain menurutnya, kehidupan masyarakat Bali tidak bias lepas dari Bambu, selain untuk bahan bangunan, kegiatan upacara adat juga menggunakan bambu. “Ada baiknya mulai dikembangkan, khususnya pada lahan kritis,” ujarnya. Seperti misalnya wilayah Gunung Batur atau wilayah lainnya, yang bisa ditanami bambu yang walau manfaat ekonomisnya tidak bisa dimanfaatkan, setidaknya bisa menghijaukan, menyerap O2 dan bisa menyimpan cadangan air. “Harapan saya seperti itu, dibanding lahan kritis itu dibiarkan. Apalagi kedepan, cadangan air akan mengalami penurunan, sehingga penanaman bambu menjadi alternative,” harapnya lagi.(sar).