JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Kabupaten Gianyar sebagai pusat kebudayaan di Bali, memiliki sederet prestasi di tingkat dunia di bidang kebudayaan. Identitas citra dan reputasi Gianyar sebagai bumi seni, kota pusaka dan kota kerajinan telah diakui masyarakat dunia.

Hal ini sejalan dengan dengan Undang-undang No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, di Kabupaten Gianyar kebudayaan menjadi basis dan taksu pembangunan.

Seni dan Budaya di Gianyar telah tumbuh, hidup dan berkembang kantong-kantong budaya dengan ciri khas daerah lokal di 7 kecamatan seperti Payangan, Tampaksiring, Tegallalang, Ubud, Gianyar, Blahbatuh dan Sukawati. Kantong-kantong budaya kecamatan inilah yang melahirkan budaya Gianyar yang dinamis dan inovatif. Hal ini disampaikan Kadis Kebudayaan Pemkab. Gianyar, I Ketut Mudana saat memaparkan program-program pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Kabupaten Gianyar pada presentasi calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi katagori Pemerintah Daerah tahun 2019, di Ruang Rapat Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Gedung E, lantai 10 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan , Jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta, Rabu (15/5) lalu.

Ketut Mudana, Kamis (16/5) kemarin menjelaskan dasar Kabupaten Gianyar mendapat calon Anugrah Kebudayaan karena pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tim yang dibentuk, menilai Kabupaten Gianyar layak dan patut menerima penghargaan atas potensi kebijakan pelestarian dan pengembangan serta partisipasi masyarakat. “Berawal dari surat Kementerian Dikbud melalui dinas kebudayaan Provinsi Bali, kami kemudian mulai menyiapkan bahan berupa sejarah Gianyar, data dan potensi kebudayaan, kebijakan pemerintah serta program dan kegiatan di bidang kebudayaan,” jelas Mudana.

Ditambahkannya, tim penilai Anugrah Kebudayaan kategori Pemerintah Daerah pada kesempatan itu terdiri dari berbagai elemen seperti Ryass Rasyid pakar otonomi daerah, Siti Zuhro dari akademisi, Susanto Zuhdi dari akademisi, Nunus Suparti budayawan dan Alfan Alfian dari akademisi. Di depan tim penilai ini dipaparkan bagaimana peranan Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam memajukan dan mengembangkan kebudayaan di Gianyar. Berdasarkan latar belakang pada zaman Bali Kuno (X- XII) Gianyar pernah menjadi pusat kerajaan dan pusat peradaban Bali (Bukit Kutri-Blahbatuh). Pada zaman Bali klasik (XII- XVIII) Kebudayaan Gianyar tumbuh subur. Sedangkan pada zaman Bali modern (XIX- sekarang) Gianyar menjadi pusat kreativitas seni dan kerajinan, dan sejak tahun 1930 –an Gianyar tumbuh menjadi salah satu daerah tujuan wisata utama di Bali.

Tidak hanya itu, seni pertunjukan juga sangat terkenal di Gianyar. Saat ini, menurut Mudana, telah tercatat ada sekitar 3.441 sekaa dan sanggar seni pertunjukan yang aktif. Dalam jumlah ini tercakup kelompok seni wali (sakral dan religious), seni bebali (seremonial dan religious) dan seni balih balihan (sekuler). Kelompok seni sekuler ini mencakup kesenian klasik/tradisional dan ciptaan baru termasuk kesenian wisata. Sedangkan Kabupaten Gianyar sebagai pusat rupa dan kerajinan, masing-masing kecamatan memiliki ciri khasnya tersendiri. Misalkan seni ukir tulang terkenal di Kecamatan Tampaksiring, perak di Desa Celuk Sukawati, Blahbatuh terkenal dengan pembuatan gambelan, kerajinan endek di Gianyar dan lain-lainnya.

Untuk menjaga dan mengembangkan seni budayanya, Pemkab. Gianyar menurut  Mudana sejak zaman swapraja hingga sekarang telah berkomitmen untuk melindungi berbagai bentuk warisan budaya daerah (tangible dan intangible), juga berkomitmen memperkuat eksistensi kantong-kantong seni budaya yang ada di wilayahnya. “Pemkab juga berkomitmen mendorong kreativitas para seniman dan mendukung dengan cara memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh seni dan budaya yang berjasa mengembangkan seni dan budaya di Gianyar,” jelasnya lagi. Seni dan budaya terjaga dan berkembang dengan baik di Kabupaten Gianyar tidak hanya berkat campur tangan pemerintah saja, namun juga andil besar dari masyarakatnya. (sar)