JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Melengkapi prosesi upacara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Prangsada, Desa Blahbatuh, Wayang Emas Majapahit dipentaskan. Pementasan Rabu (20/3/2019) juga bertepatan dengan Purnama Kapat.

Pementasan wayang ini menjadi perhatian warga, mengingat tidak banyak yang mengetahui ada wayang berbahan emas. Wayang Emas distanakan di Griya Peling, Desa Padangtegal, Ubud, dengan jumlah 100 wayang. Tokoh-tokoh dalam wayang ini dari lakon Mahabharata dan Ramayana. Wayang Emas ini sampai di Geriya Peling bermula saat Ida Pedanda Geriya Peling, Ida Pedanda Gede Jungutan Manuaba didatangi seorang warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada 2009 silam.

Warga tersebut mengaku masih trah Majapahit, yang memiliki misi menyelamatkan benda-benda bersejarah warisan Kerajaan Majapahit. Kepada Ida Pedanda, orang tersebut mengatakan menerima wangsit, supaya Wayang Emas yang disimpannya diwariskan pada Griya Peling. Namun di Griya peling, wayang tersebut tidak disimpan begitu saja. Setelah menjadi milik griya, wayang tersebut dipentaskan pada saat upacara tertentu dan masyarakat tidak dipungut bisaya.

Wayang-wayang ini memiliki bentuk berbeda dengan wayang Bali pada umumnya. Bentuk wayangnya lebih menyerupai wayang Jawa. Untuk tokoh Tualen dan Merdah sebagai punakawan, pada wayang emas ini memakai tokoh Semar - Petruk. Keaslian wayang emas tersebut sudah pernah diteliti, Satu persatu wayang dites, dan bahannya menggunakan lembaran emas 18 karat sampai 22 karat.

Dalang, I Ketut Alit Sujaya mengatakan dalam mementaskan wayang emas ini sangat berbeda dengan pementasan wayang pada biasanya. “Kesan magis sangat kuat, bahkan seperti ada yang menuntus saat mementaskannya,” jelas Jro Dalang Ketut Sujaya. Dituturkannya, saat pentas, mengangkat wayang tersebut terasa ringan, disbanding mengangkat saat tidak pentas. “Setiap melakukan pementasan, saya seperti ada yang melindungi dan menuntun, sehingga pementasan berjalan lancer,” terang dalang asal Peliatan ini.(sar)