JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Desa Taro, Kecamatan Tegalalang terkenal dengan Lembu Putihnya. Lembu ini, telah hidup ratusan tahun di Desa Taro.

Selain sebagai pelestarian plasma nuftah, lembu bermanfaat untuk sarana upakara. Bahkan beberapa warga sangat mempercayai, kotoran lembu tersebut sebagai obat alternatif.

Kelian Adat Taro Kaja, Made Tagil Kumaranatha beberapa waktu lalu membenarkan, banyak masyarakat dari berbagai daerah datang ke lokasi pelestarian Lembu Taro ini.

“Bahkan ada yang datang dari luar Bali, datang hanya untuk mencari sarana obat kesembuhan penyakit yang diderita,” jelas Tagil Kumaranatha. Masyarakat yang datang dengan berbagai keluhan penyakit, ada yang datang karena mendapat petunjuk niskala, atau ada yang datang karena mendengar cerita kotoran, keringat, air kencing bahkan air liur lembu Taro bisa menyembuhkan penyakit. 

Dituturkannya, ada yang datang memohon air kencing lembu untuk obat, untuk loloh (obat alternatif yang diminum). Ada juga yang mencari kotorannya untuk boreh(obat lulur), bahkan keringat dan air liur juga ada yang mencari untuk obat alternatif. 

“Setelah memohon obat di sini kami tak tahu, apakah sembuh atau tidak. Faktanya banyak yang datang untuk membayar sesangi (kaul) karena berkat obat alternatif dari kotoran atau air kencing lembu bisa sembuh,” katanya.

Tagil Kumaranatha menjelaskan permohonan kotoran, air kencing bahkan air liur lembu terus ada. Hal ini mungkin karena kepercayaan dan keyakinan yang tinggi para penderita terhadap tuah lembu Taro yang keramat dan disucikan ini bisa menyembuhkan. “Kami tak pernah mempromosikan. Tapi memang banyak yang datang ke sini memohon obat dari lembu ini,” ujarnya.

Untuk memohon obat tidak ada tarif tertentu. Masyarakat yang datang sebelum mencari bahan obat, terlebih dahulu memohon di sebuah palinggih Dalem Nandini, yang berlokasi tidak jauh dari kandang lembu (utara kandang), dengan sarana upakara seadanya. Mereka bersembahyang memohon kesembuhan di pelinggih tersebut. Selanjutnya kotoran, air kencing, bahkan air liur lembu diambil di kandang lembu, digunakan sebagai sarana obat. Mungkin untuk loloh atau untuk boreh. “Biasanya kotorannya untuk boreh, sedangkan air kencing dan air liur untuk loloh,” ungkapnya.

Saat ini jumlah ppulasi lembu Taro sekarang 51 ekor. Lembu ini disakralkan oleh masyarakat Desa Taro. Lembu-lembu ini sekarang dipelihara Yayasan Lembu Taro, yang bernaung di bawah Desa Pakraman Taro. Beberapa waktu lalu, Desa Taro mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah pusat, terkait plasma nuftah dan pelestarian Lembu Putih, Taro. (sar)