JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Di Wilayah Desa Pejeng terdapat banyak situs bersejarah, baik yang berada di sekitar desa atau di sepanjang tebing. Situs-situs ini ada yang terawat dengan baik dan mendapat kunjungan wisatawan, namun malah ada yang tanpa kedatangan wisatawan sama sekali.

Hal ini seperti Situs Candi Tebing Klebutan, di Desa Pejeng Kawan, Gianyar. Situs ini terdapat di selatan desa dan dengan bejalan kaki menuruni sekitar 100 meter akan mendapati Candi Tebing Klebutan. Hanya sayang, akses masuk ke situs ini tidak terawatt dengan baik, di sisi kiri kanan akses masuk rumput meninggi dan tidak tersedia tempat untuk sekedar duduk bagi wisatawan yang ingin beristirahat atau menikmati suasana tebing.

Di dasar tebing, air mengalir dengan jernih, dan di tebingnya ada relief berukir seperti candi. Inipun kondisinya sudah ditumbuhi rumput semak, sehingga pemandangan tebing tidak jelas terlihat. Begitu juga pada selatan candi tebing terdapat bangunan serupa, menyerupai tempat bersemedi. Sayangnya akses masuk ke lokasi ini sangat licin. Disamping itu, air yang mengalir di sekitar tebing adalah air got yang dating dari rumah warga, sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Salah satu warga setempat yang namanya tidak mau disebutkan, Minggu (16/12/2018) menyebutkan situs Tebing Candi Klebutan sudah sejak lama ditinggalkan wisatawan.

“Saat ini sudah tidak ada wisatawan yang berkunjung, akses dan situsnya hanya sekedar terawatt,” jelas warga ini. Padahal menurutnya, salah satu Stasiun TV swasta pernah memanfaatkan situs tersebut untuk syuting Film Cupak Grantang. “Dulu situs ini bagus, terawat dan asri, sekarang seperti terlantar,” bebernya lagi.

Warga ini mengungkapkan pula, bukan saja wisatawan yang tidak mau dating ke situs ini, warga lokal juga juga mulai meninggalkan tempat keramat ini. Hal ini disebabkan karena pada sisi barat di atas tebing terdapat Instalasi Pembuangan Air Limbah Tinja (IPALT). “Sejak adanya IPALT itu, warga enggan mandi di bawah, mungkin karena faktor psikologis, di atasnya terdapat tinja, sehingga tidak mau memanfaatkan sumber mata air untuk mandi atau konsumsi,” terangnya.

Menurutnya, sumber mata air di sekitar situs dulunya digunakan untuk permandian umum dan ada sumber mata air yang sudah kering. Sehingga kondisinya saat ini, situs tersebut hanya dirawat oleh seorang pegawai Cagar Budaya. “Mungkin karena image ada saluran tinja, terus ditinggalkan wisatawan dan warga, karena masuk ke situs ini tercium bau tidak sedap,” tukasnya. (sar)