JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography

GIANYAR-fajarbali.com | Melawan peredaran Narkoba yang semakin kompleks, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen. Drs. Heru Winarko me-louncing Desa Bersih Narkoba, Pelantikan Relawan Anti Narkoba dan Penandatanganan Pararem Anti Narkoba, di Balai Budaya Gianyar, Kamis (15/11/2018).

Kegiatan itu dihadiri Wakil Gubernur Bali Tjokorda Artha Ardhana Sukawati, Bupati Gianyar I Made Mahayastra, Kepala BNP Bali, Kepala BNK Gianyar, MMDP Gianyar, bendesa dan sejumlah perbekel di Kabupaten Gianyar.

Sementara Bupati Gianyar I Made Mahayastra dalam sambutannya mengatakan, Gianyar rohnya pulau Bali. Tidak salah memilih Gianyar sebagai tempat melauncing desa bersih narkoba dan pelantikan relawan dan penandatanganan perarem anti narkoba. Berdasarkan sejarah apa yang dilakukan di Gianyar telah terbukti bukti. Seperti, penyatuan beberapa aliran di Bali berhasil bersatu hingga kini. “Dipilihnya Gianyar sebagai tempat louncing desa bersih narkoba, diharapkan memberi manfaat yang bisa diharapkan BNN," ujar Mahayastra.

Terkait penandatanganan pararem, Mahayastra mengungkapkan, kebetulan Gianyar akan melakulan revisi awig-awing. Karena awig-awig yang ada sudah lama tidak ada revisi. Terakhir awig disahkan zaman Bupati Tjokorda Gde Budi Suryawan. Sekarang banyak hal perlu dilakukan perbaikan, disesuaikan dengan kebutuhan sekarang ini. Dalam revisi nanti, pengaturan tentang narkoba bisa masuk awih, pecalang, LPD, KDRT, dan hal lain menyangkut ekonomi desa pakraman skan diatur. Jadi pengaturan soal narkoba do Gianyar nanti tidak sekadar perarem. Namun dalam awig. “Di Gianyar pengaturan soal narkoba lebih tinggi dari perarem,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut dikatakan, Lembaga pemasyarakatan di Gianyar lebih banyak dihuni narapidana narkoba dan perceraian. Karena itu, para bendesa diharapkan menerima pararem narkoba untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di desa ppakraman masing-masing. “Narkoba menyebabkan keluarga menderita,” tambahnya.

Gubernur Bali dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengatakan, penyebaran narkoba sangat mengkhawatirkan. Tahun 2017 jumlah penyalagunaan narkoba di Indonesia mencapai 3.3 juta jiwa. Sedangkan Bali 2017 berjumlah 1.62 % dari jumlah penduduk Bali.Karena itu, narkoba harus mendapat perhatian semua pihak.  Segala peraturan telah dibuat dengan bahkan dengan hukuman berat. Namun belum mampu mencegah bisnis haram narkoba ini. “Karena itu melalui pengukuhan desa anti narkoba, relawan dan pararem anti narkoba bisa mencegah meluas penyalahgunaan narkoba,” harap Cok Ace.

Beberapa desa ditetapkan debagai desa bersih narkoba, diantaranya Desa Bedulu, Sebatu, Batuan Kaler, Desa Petulu, Desa Bukian dan Desa Sanding.

Kepala BNN Komjen. Drs Heru Winarko menegaskan, penyalahgunaan narkoba sangat memprihatinkan. Indonrsia sekarang tidak hanya sebagai konsumen, namun juga produsen. Menurutnya, 80 persen narkoba datang dari luar. Karena itu BNN tidak hanya bertahan dari serangan barang haram itu.

Namun harus berjuang dengan mendatangi negara- negara produksi narkoba, untuk mempelajari jaringan pasaran narkoba yang diproduksi. Sekarang ada 73 jenis masuk ke Indonesia. Bahkan sudah masuk ke desa- desa. Bali masuk lima besar penyalahgunaan narkoba. Bahkan, narkoba yang beredar di Bali jenisnya paling bayak se Indonesia.

“Ini karena Bali sebagai daerah pariwisata,” sebutnya. Pihaknya berterima kasih kepada Bupati Gianyar mengajak desa membuat pararem. “Ke depan, Babinsa, Babinkamtibmas dan perbekel juga harus bersatu padu melawan narkoba,” harapnya lagi.Kabupaten Gianyar sangat layak menjadi salah satu daerah pionir untuk gerakan desa bersih narkoba. Diharapkan nantinya, gerakan ini dapat menginspirasi daerah lainnya untuk menggelar gerakan serupa. (sar)