JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography
GIANYAR-fajarbali.com | Komoditas pertanian Porang di Kabupaten Gianyar saat ini masih tahap pemula. Dimana petani Porang di Gianyar sampai saat ini belum ada yang panen dan menikmati hasil, dimana tanaman ini baru dikembangkan sejak saat Covid 19 melanda. 
 
Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Distannak Gianyar, I Wayan Suarta, Kamis (11/5/5/2022) kemarin menyebutkan luasan yang dikembangkan tanaman Porang di Gianyar baru 36 hektar. "Luasan ini masih sangat sedikit dibanding Kabupaten Buleleng atau Karangasem, yang hampir menyentuh luasan pengembangan seribuan hektar," jelas Wayan Suarta. Sedangkan kecamatan yang mengembangkan Porang ada di Kecamatan Payangan, Tegalalang, Gianyar dan Blahbatuh. 
 
Dikatakan lagi, dari 36 hektar tanaman porang ditekuni oleh 40 petani yang mencoba mencari peruntungan di komoditas Porang. Bahkan dari 40 petani tersebut, baru tiga petani yang lahannya mendapat sertifikat atau lisensi tanam Porang. "Sertifikat ini penting, selain terdaftar sebagai petani Porang, penjualannya juga tidak dihambat dan mendapat harga yang memadai," jelasnya. Dikatakan lagi, di awal-awal tanaman Porang booming, harga umbi perkilo sempat menyentuh Rp 14.000/kg. Namun saat ini pasaran rata-rata sekitar Rp 3.000/kg. "Fluktuasi harga ekstrim ini juga menyebabkan beberapa petani masih enggan menanam karena faktor harga," jelasnya lagi. 
 
Walau demikian, Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar memberikan jalan kepada petani pemula dengan mendaftarkan lahan agar mendapat good agriculture practice (GAP). Dengan mendapat sertifikat GAP ini selain lahan mendapat jaminan mutu, juga keamanan saat pasca panen dengan kepastian harga. Ditambah Suarta, persyaratan untuk mendapatkan sertifikat GAP adalah telah memiliki nomor ijin usaha (NIB), memahami pengolahan lahan sesuai GAP, melakukan pencatatan dalam pengembangan Porang. "Dinas pertanian siap memfasilitasi petani yang mengajukan GAP," terangnya.sar

BERITA TERKINI