JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography
GIANYAR - fajarbali.com | Kabupaten Gianyar memiliki produksi buah jeruk yang terpusat di Gianyar Utara. Walau demikian, saat panen berlimpah, harga buah jeruk ini anjlok, sehingga petani jeruk kebanyakan merugi. Bupati Mahayastra beberapa waktu lalu berkeinginan membangun pabrik jeruk, sebagai salah satu solusi penyelamatan petani jeruk akan kerugian yang dihadapi.

 


Rencana pembangunan pabri jeruk ini, mendapat tanggapan positif dari praktisi sekaligus Guru Besar di Faktutas Pertanian Unud, Prof. I Wayan Windia. “Ini suatu langkah positif, bupatinya orang pariwisata dan praktisi pariwisata namun sangat konsen membantu petani dan subak. Walau gerak-geriknya selama ini lebih banyak di bidang pariwisata,” jelas Prof Windia. Dirinya merasa terkejut ketika mendengarkan pertanggungjawaban publik, setelah dua tahun kepemimpinan Made Mahayastra dan Anak Agung Gde Mayun. “Saya hadir dalam acara itu. Saya agak terkejut, ketika Bupati Mahayastra berorasi tanpa teks dan akhirnya ia berbicara tentang subak dan pertanian. Bahwa ia sangat bangga, karena Kabupaten Gianyar adalah satu-satunya Pemda yang sudah memiliki Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Ia ingin agar lahan sawah di Gianyar bisa bertahan abadi,” jelasnya.

 

Prof Windia juga mengatakan, bahwa Bupati ingin agar petani senang dan bangga sebagai petani.  Sebab Pemkab Gianyar akan memberikan insentif yang cukup bagi petani (subak) yang bersedia ikut dalam program LP2B tersebut. Sehingga kalau subak sudah menandatangani kesepakatan, lalu pihak subak melanggar atau  mengkonversi sawah  maka subak itu akan dikenakan sanksi. “Bagi saya, ide Bupati Mahayastra sangat baik. Yakni memberikan insentif kepada petani (subak) yang bersedia ikut dalam kegiatan LP2B. Kalau petani tidak diberikan insentif sesuai perda, maka banyak sekali petani di Gianyar akan menjual sawahnya,” ungkapnya.

 

Prof Windia menambahkan lagi, Bupati Mahayastra berpikir tentang industri hilir. Bahwa ia merasa kasihan dengan produksi jeruk dan lain sebagainya yang berlimpah, dan harganya jatuh berkeping-keping. Sehingga untuk mengolah bahan baku tersebut yang melimpah akan diprogramkan dengan pembuatan jus jeruk, jely dan sebagainya. “Untuk ini, saya berharap agar Bupati Mahayastra bisa konsisten dalam komitmennya dalam pengembangan sektor pertanian dan perlindungan subak. Karena eksistensi sektor pertanian, tidak saja berpengaruh pada ketahanan pangan, tetapi juga berpengaruh pada eksistensi kebudayaan Bali,” tandasnya.

 

Sebelumnya, Bupati Mahayastra menyebutkan pabrik jeruk akan dikelola seperti Perumda Tirta Sanjiwani. Bukan hanya produksi jeruk saja yang akan dipolah, namun buah lain yang memiliki potensi dijual baik untuk lokal dan pariwisata.(gds).