JA Teline V - шаблон joomla Форекс

GIANYAR
Typography
GIANYAR - fajarbali.com | Dalam dua tahun kepemimpinan Bupati mahayastra bersama Wabup, AA Gde Mayun, banyak terobosan telah dilakukan. Pada Minggu (20/9/2020) petang, Bupati Mahayastra menybutkan telah menerapkan layanan digital di Rumah Sakit umum Payangan. Pelayanan digital ini disebut Mayahasyra telah menyalip pelayanan di RSUD Sanjiwani. “Rumah Sakit Payangan baru berdiri 8 bulan, sudah mampu memberikan layanan digital,” jelas Mahayastra.


Dalam kesempatan memaparkan pelayanan digital. Bupati Mahayastra memberikan waktu pada Dirut RSUD Sanjiwani, Ida Komang Upeksa sampai tiga bulan ke depan untuk mempelajari sistem digital seperti di RS Payangan. “Saya beri waktu tiga bulan untuk membuat aplikasi ini, bila tidak mampu, bisa mundur dari jabatan,” jelas Bupati Mahayastra.

Bupati Mahayastra menjelaskan, pelayanan digital yang sudah dilaksanakan tersebut meliputi ketika masyarakat mulai mengambil nomor antrian pelayanan. “Ketika mengambil nomor antrian dan atas keluhannya, terpampang siapa dokter yang menangani, jam berapa mendapat pelayanan,” jelas Mahayastra. Dijelaskan lagi, informasi digital tersebut juga memberikan data, berapa ruang pelayanan yang terpakai, berapa bed yang kosong sehingga pelayanannya sangat transparan.

Dikatakan Mahayastra, dari nomor antrian sampai masyarakat selesai dilayani dan akan terpampang. Bahkan menurut Mahayastra juga, masyarakat bisa memberikan komentar pada status layanan yang diberikan. “Kalau sudah mendapat penangan, masyarakat bisa menuliskan komentar, pelayanan memuaskan apa tidak,” tambah Mahayastra.

Dijelaskan lagi oleh Mahayastra, untuk RSUD Sanjiwani sampai saat ini belum mampu menerapkan sistem pelayanan digital. Walau demikian, Bupati mahayastra memberikan tenggat waktu tiga bulan untuk menerapkan sistem pelayanan digital. “Nah, saya minta, paling tidak di awal Tahun 2021 RSUD Sanjiwani sudah menerapkan pelayanan digital. “Kepada Pak Dirut, saya minta paling tidak awal 2021 sudah terlaksana aplikasi layanan digital, Jika Pak Dirut tidak bisa menjalankan, lebih baik mundur,” ujar Mahayastra.

Dijelaskan Mahayastra lagi, pelayanan digilat diambil karena banyaknya keluhan masyarakat atas pelayanan kesehatan. “Rumah sakit ini fasilitas pemerintah, sekarang bukan jamannya main-main, baik direktur, dokter dan tenaga medis lainnya. Gaji terukur melalui kinerja, yang paling saya hindari adalah menonjobkan orang,” ujarnya. Sehingga kedepannya, dari komntar masyarakat atas pelayanan melalui layanan digital akan ketahuan kinerja tenaga medis. “Kalau komentar bagus pasti ada reward, kalau komentar buruk nanti ada tindakan,” pungkas Mahayastra.(gds).