JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI - fajarbali.com | Dalam sepekan terakhir, harga telor ayam mulai mengalami kenaikan yang cukup tinggi di Kabupaten Bangli. Salah satu pemicu meroketnya harga telor ini, karena peternak pada awal penyebaran Covid-19 mulai melakukan pengurangan populasi.

Selain itu, diduga karena dijadikan bagian paket sembako yang gencar dilakukan pemerintah maupun instasi lainnya kepada masyarakat terdampak Covid-19. Karena itu, harga telor kian meroket dipasaran dan kini menembus Rp 43 ribu per krat atau Rp 23 per kilo gram. Selain dampak pembagian paket sembako, kenaikan harga telur juga akibat naiknya permintaan telur dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan daerah lainnya.

Salah seorang peternak ayam asal Tanggahan Tengah, I Wayan Eka saat dikonfirmasi, Kamis (2/6/2020) mengakui kalau harga telur sejak sepekan menunjukan trend naik. Kata dia, harga telor mulai naik yang awalnya dari 36  ribu sampai 38 ribu per krat kini menjadi Rp 40 ribu hingga Rp 43  ribu per krat. “Iya. Sejak sepekan terakhir permintaan telor terbilang sangat tinggi sehingga mulai menyebabkan harganya cenderung mengalami kenaikan,” ungkapnya.

Menurut dia, kenaikan harga telur ini diakibatkan oleh sejumlah factor, paling utama adalah  karena adanya penurunan populasi. Mengingat, lanjut dia, saat awal pandemic covid -19 di Bali banyak peternak yang mengurangi populasi, karena harga telur saat itu sempat anjlok. “Karena penyebaran Covid-19, menyebabkan banyak peternak belum lama ini mengurangi populasi. Ayamnya banyak diafkir lebih awal,”tuturnya.  Selain itu, diakui, produksi telur belakangan ini juga agak turun, lantaran dampak cuaca dingin. Sementara permintaan telur di masyarakat belakangan justru naik, yang dipicu pula gencarnya pembagian paket sembako oleh pemerintah.

Hal yang sama juga diakui peternak lainnya Kadek Budiartawan asal Desa Tiga, kecamatan Susut. Disebutkan, harga telur belakangan ini memang cukup bagus, ketimbang saat pandemic covid baru merebak di Bali. Dimana, saat itu harga telur sempat nyungsep sehigga banyak peternak yang kurangi populasi.  “Syukur sejak beberapa pekan ini  harga telur melonjak hingga menembus angka Rp 40 hingga  43 ribu per krat untuk telur ukuran besar,”ujar dia.

Sebut Budiartawan, kenaikan harga telur selain naiknya permintaan pasar lokal, juga ditambah dengan meningkatnya permintaan telur dari Nusa Tenggara Barat dan NTT. Mengingat telur produksi peternak di Bali banyak yang dipasarkan ke daerah tersebut. “Saat ini, kita sangat kewalahan melayani pesanan,” tegasnya. (arw)