JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI - fajarbali.com | Dampak serangan virus ASF dan diperparah wabah corona yang belakangan merebak, telah menyebabkan perkembangan harga babi di Bali kian gonjang-ganjing. Tak kecuali di Kabupaten Bangli. Bahkan harga babi, sempat anjlok hingga dititik nadir yang membuat para peternak babi menjerit dan Sebagian bahkan gulung tikar. Beruntung perkembangan terakhir, harga babi mulai menunjukkan tanda-tanda kenaikan. Dimana saat ini, harga babi potong berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 26 ribu per kilo. Atas kondisi tersebut, untuk menjamin dan memberikan perlindungan kepada para peternak kecil, diharapkan Gubernur Bali melalui Pemerintah Propinsi Bali bisa membuat semacam regulasi untuk mengatur kestabilan harga babi.

 

 

Anggota Komisi I DPRD Bangli, I Ketut Guna, SH saat dikonfirmasi Rabu (03/06/2020) tidak menampik adanya sejumlah keluhan para peternak Babi di kabupaten Bangli ditengah ancaman serangan virus ASF dan diperparah akibat dampak wabah Corona yang masih merebak.  Diakui, saat kondisi harga babi anjlok, benar-benar telah membuat para peternak kelimpungan. “Saat kondisi anjlok, saya juga terpaksa sempat menjual babi yang keluarga saya pelihara dengan harga Rp 15 ribu per kilo. Padahal, hitung-hitungannya dengan harga segitu peternak pasti rugi besar karena tidak sebanding dengan harga pakan,” ungkap Ketut Guna yang juga peternak babi ini.

 

Disebutkan, agar peternak mendapat sedikit untung idealnya harga babi potong ditingkat peternak berkisar antara Rp 26 ribu hingga Rp 28 ribu. “Untuk perkembangan sekarang, harga babi memang sudah mulai naik berkisar Rp 25 ribu hingga 26 ribu per kilogram. Namun kepastian harganya masih belum jelas dilapangan,” katanya. Sebab, menurut Politisi Partai Nasdem asal Desa Pakraman Kayang, Kayubihi ini, kondisi itu terjadi karena belum adanya regulasi yang dibuat pemerintah baik Kabupaten Bangli maupun Pemerintah Propinsi Bali untuk mengatur dan menjamin kestabilan harga babi tersebut. “Kenyataan dilapangan selama ini, ditengah kondisi harga yang masih gonjang-ganjing ada kecendrungan para peternak babi terutama peternak rumahan kerap dirugikan akibat permainan harga oleh para makelar. Mereka inilah yang perlu mendapat perlindungan dan jaminan dari pemerintah dengan dibuatkan semacam regulasi untuk mengatur kestabilan harga dilapangan,” jelasnya.

 

Dalam hal ini, pihaknya juga berharap peran pemerintah untuk bisa mengatur juga kestabilan harga pakan babi. Sebab, selama ini ada kecendrungan harga pakan justru tetap tinggi dan itu susah diatur. “Ini (harga pakan-red) perlu juga diatur pemerintah untuk melindungi para peternak kecil di Bali,” pungkasnya. (arw)