JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Di tengah gemerlap pariwisata Bali, nasib sejumlah siswa Sekolah Dasar di desa Terunyan, Kintamani, Bangli justru benar-benar memperihatinkan.

Pasalnya, untuk bisa mengenyam pendidikan mereka harus berjuang ekstra keras menggunakan sampan kecil untuk bisa menyebrangi danau Batur menuju ke sekolah. Selain itu, sejumlah siswa lain bahkan harus jalan kaki hingga satu setengah jam untuk bisa mengenyam pendidikan.

Seperti yang dialami I Gede Agus Wardika, siswa kelas IV SDN 1 Terunyan. Anak berusia 10 tahun yang tinggal di Pondokan Waru, desa Terunyan ini, sehari-hari harus mengayuh sampannya seoarang diri untuk bisa sampai ke sekolahnya dengan jarak tempuh mencapai setengah jam.

Maklum jarak tempat tinggalnya, hanya bisa diakses dengan menggunakan perahu dengan jarak sekitar 5 kilometer dari pusat desa, tepatnya berada dibelakang Kuburan Adat Desa Terunyan. Meski demikian, anak sulung dua bersaudara dari pasangan suami istri Putu Wardana dengan Ni Nengah Sudiani merupakan salah satu siswa berprestasi disekolah tersebut.

Gede Agus Wardika saat ditemui disekolahnya Rabu (04/9), menuturkan sudah biasa mengayuh sampan seoarang diri sejak dua tahun silam. “Karena tidak ada akses jalan menuju ke sekolah, pada saat kelas satu saya diantar oleh bapak. Tapi sejak kelas dua, saya sudah biasa sendiri mengayuh perahu ke sekolah,” ungkapnya.

Lebih memperihatinkan lagi, sampan yang dipergunakan tersebut nyatanya adalah hasil dari minjam ke tetangga. “Ayah saya cuma satu mempunyai sampan. Karena adik saya sekarang sudah bersekolah, sehingga sampan tersebut dipergunakan ayah untuk mengantar adik saya. Sedangkan sampan yang saya pergunakan hasil minjam dari tetangga,” akunya polos. Disebutkan, adiknya bernama Kadek Ervan Sugianto (6,5 tahun) saat ini duduk dibangku kelas I SDN 1 Terunyan.

Setiap hari yang bersangkutan biasanya berangkat dari rumahnya pukul 07.00 wita dan tiba disekolah sekitar pukul 07.30 wita. Apa tidak takut naik sampan sendirian saat gelombang besar? “Sudah biasa saya,” ujarnya singkat. Meski demikian, Agus Wardika juga mengaku jika cuaca buruk disertai gelombang besar terpaksa tidak berani kesekolah.

“Kalau hujan deras disertai gelombang tinggi, saya terpaksa tidak bisa kesekolah,” ucap bocah yang bercita-cita menjadi Guru Matematika ini. Dia juga mengaku belum berani mengajak adiknya untuk sama-sama ke sekolah dalam satu sampan, karena kondisi sampanya yang kecil. Karena itu, Agus berharap bisa mendapatkan bantuan sampan supaya bisa meringankan beban keluarganya.

Sementara Kepala Sekolah SDN 1 Terunyan, I Nyoman Siyem membenarkan kondisi dua orang siswanya yang harus menyebrangi danau Batur untuk bisa sampai ke sekolah. “Dua siswa kami yang menggunakan sampan untuk bisa ke sekolah adalah kakak adik. Mereka menggunakan sampan, karena tempat tinggalnya di pondok Waru, tepatnya dibelakang Kuburan desa Terunyan yang selama ini memang belum ada akses jalan,” bebernya.

 

Dari informasi warga setempat, jumlah warga yang saat ini tinggal Pondok Waru sebanyak 5 Kepala Keluarga (KK). Dengan kondisi tersebut, rata-rata warga setempat mengandalkan hidup dari matapencaharian sebagai nelayan penangkap ikan di danau Batur. Bahkan Agus Wardika, juga disebutkan biasa membantu pekerjaan ayahnya menangkap ikan sepulang sekolah. Meski dengan kondisi tersebut, Agus Wardika merupakan salah satu siswa yang berprestasi disekolah tersebut. Prestasinya dari kelas satu bahkan terus meningkat. “Saat kelas dua, Agus ini mendapat rangking 3 dan saat kelas tiga prestasi yang bersangkutan meningkat mendapat rangking satu,” bebernya.

Selain itu, kata Siyem, ada lima siswanya yang juga kondisinya cukup memperihatinkan untuk bisa kesekolah. Terutama siswa yang berasal dari banjar Madya yang letaknya berada di balik bukit desa Terunyan. “Lima siswa kami yang berasal dari Madya, sehari-hari harus jalan kaki selama satu setengah jam , naik turun bukit untuk bisa sampai kesekolah,” ungkapnya. Atas kondisi tersebut, pihak sekolah pun berharap ada perhatian lebih dari pemerintah supaya segera bisa membangun akses jalan yang lebih layak untuk kemajuan dunia Pendidikan di wilayah desa Terunyan. (ard)