JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BANGLI
Typography

BANGLI-fajarbai.com | Fenomena semburan belerang kembali melanda Kawasan Danau Batur, Kintamani, Bangli. Dampaknya, ribuan ikan jenis nila milik para petani yang dibudidayakan dengan system kuramba tewas secara sporadis. Tragisnya, ikan yang banyak mati justru ikan yang sudah siap panen sehingga menyebabkan kerugian petani kian besar.

Sesuai pantauan Senin (15/07/2019), sebaran semburan belarang di Danau Batur terjadi di tiga titik. Yakni Desa Buahan, Kedisan dan Seked. Dari ketika titik tersebut, yang terparah hingga menimbulkan banyak kematian ikan yakni di wilayah Seked. I Ketut Wania salah seoarang petani setempat menuturkan, semburan belarang diketahui terjadi mulai Minggu (14/7) dini hari kemarin. “Tapi kematian ikan mulai terjadi sejak pagi tadi,” ungkapnya.

Kata dia, dari 34 lubang kuramba yang dimilikinya, tercatat dua lubang yang mengalami kematian secara sporadis. Bangkai ikan yang mati kondisinya telah mengambang dan mengeluarkan bau amis. “Kebanyakan ikan yang mati, justru ikan yang sudah siap panen,” keluhnya. Karena kondisi tersebut, kerugian yang dideritanya mencapai Rp 75 juta. Hitung-hitungannya, dalam satu lubang terdapat 4 ribu - 5 ribu ekor ikan yang beratnya untuk tiga sampai empat ekor mencapai satu kilogram dengan umur delapan bulan. Dimana saat ini, harga ikan nila mencapai Rp 28.000 per kilogram. Jadi diperkirakan total ikan yang mati mencapai berat 2,5 ton. “Sedangkan untuk ikan yang masih kecil-kecil, yang umurnya dibawah empat bulan sampai saat ini masih selamat,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, Wania hanya bisa pasrah. Terlebih, diperkirakan semburan belarang tersebut masih berpotensi terjadi hingga dua pekan kedepan. Tindak lanjut dari itu, petugas yang membidangi perikanan bersama penyuluh perikanan dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli telah langsung turun ke lokasi melakukan pengecekan kondisi air danau Batur.

Kepala Bidang Perikanan Dinas PKP Kabupaten Bangli, I Nyoman Widiada mengakui, semburan belerang terjadi di tiga titik tersebar di Kedisan, Buahan dan Seked. “Dari pengecekan langsung di tiga titik itu, kematian ikan hanya terjadi di wilayah Seked. Sedangkan dititik lainnnya, tidak ada kematian,” ungkapnya.

Dari hasil penelitian, dipastikan kematian ikan tersebut terjadi akibat semburan belerang.  “Akibat semburan belerang itu, kondisi sulfur air Danau Batur sangat tinggi sekali mencapai 195 ppm. Padahal normalnya, 80 ppm. Selain itu, pospor juga tinggi. Sedangkan oksigen dalam air menjadi rendah dan suhu air danau hanya 23 derajat celcius,” jelasnya. Kondisi tersebut yang menyebabkan ikan terutama ikan yang berukuran lebih banyak rawan mati karena lemas kekurangan oksigen.

Lanjut Widiada, sejatinya fenomena semburan belerang di danau Batur merupakan siklus tahunan. Karena itu, mengaku telah rutin memberikan himbauan kepada para petani untuk menghindari resiko kerugian yang lebih besar. “Memasuki bulan Juni, kita telah mengingatkan masyarakat khususnya petani ikan. Sebab, biasanya memasuki bulan Juli hingga September,  merupakan siklus terjadinya semburan belerang di Danau Batur,” sebutnya.

Salah satu cara untuk mengurangi resiko kerugian, disarankan, sebelum bulan-bulan rawan tersebut agar panen dilakukan mendahului serta menghindari penebaran benih. “Kalau mengacu pengalaman sebelumnya, biasanya kondisi air Danau Batur akan kembali stabil sekitar sepuluh hingga dua minggu kedepan. Sebaran belarang ini bisa meluas, tergantung juga arah angin,” pungkasnya. (ard)