JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BULELENG
Typography

SINGARAJA - fajarbali.com | Tidak bisa bekerja setelah mengalami kecelakaan hebat sepuluh tahun yang lalu membuat Ida Bagus Sudika (48) warga masyarakat Dusun Melanting, Desa Banjar, Kecamatan Banjar mengalami cacat seumur hidup lantaran mengalami kejepit saraf leher yang membuat pria memiliki satu orang istri dan empat orang anak harus rela hidup pas-pasan. Bukan hanya itu, Sudika juga harus menanggung ibu dan adik kandungnya yang hidup diatas tanah miliknya dengan rumah yang terbuat dari dingding batako, beratapkan seng serta lantai semen.

 

Menurut Sudika dirinya mengaku kalau selama ini dia sempat melakukan berjualan keliling makanan jadi seperti rempeyek ketela pohon namun akibat mewabahnya Covid 19 yang terjadi dirinya memilih untuk tidak berjualan lantaran barang dagangan miliknya yang setiap hari habis terjual manis semenjak dengan adanya Covid 19 yang terjadi barang dagangannya selalu tersisah lebih banyak dari yang lalu sehingga dengan adanyahal itu dirinya memilih berhenti berjualan untuk sementara ditengah pandemic Covid 19 yang terjadi.”Dulu kalau berjualan istri saya yang keliling ke masyarakat menjual rempeyek namun semenjak wabah Covid terjadi, dagangan milik saya tidak pernah laku sehingga kami memilih tidak berjualan selama pandemic Covid terjadi,”tuturnya. Dikonfirmasi penghasilan setiap hari? Sudika menceritakan kalau disaat berjualan dirinya memiliki penghasilan setiap harinya Rp 30 ribu rupiah namun semenjak tidak berjualan dirinya mengaku tidak pernah memiliki uang.

”Kalau penghasilan disaat saya berjualan paling Rp 30 ribu dan semenjak pandemic Covid yang terjadi jangankan keuntungan modal pembuatan dagangan tidak balik lantaran barang dagangan selalu tersisa,”ucapnya. Bahkan Sudika menuturkan kalau kesehariannya semenjak mewabahnya Covid 19 yang terjadi dirinya merasa sangat kekurangan. Yang menjadi memprihatinkan bapak empat orang anak itu harus rela meminta-minta kepada orang lain.

”Kalau dulu saya cukup beli beras dan tempe dan tahu setiap harinya. Namun semenjak pandemic Covid yang terjadi kami selalu kekurangan. Saya atau istri saya harus rela meminta-minta kepada orang lain hanya untuk menyambung hidup. Bukan hanya itu dalah satu hari kami juga kadang makan nasi yang basi dan bahkan tidak makan,”akunya sembari menundukkan kepalanya. Dengan adanya hal itu, dirinya sangat mengharapkan peratian pemerintah utamanya Gubernur Bali Wayan Koster untuk bisa memberikan peratian kepada warga masyarakat miskin termasuk dirinya sendiri.

”Kalau boleh saya meminta adanya peratian pemerintah baik dari Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana dan Gubernur Bali Wayan Koster agar lebih memprihatikan kepada masyarakat miskin sepeti keluarga kami,”harapnya. Lebih jauh kata dia, ditengah pandemic Covid 19 yang terjadi dia mengakui tidak pernah ada uluran tangan dari pemerintah yang dirasakan ditengah Covid 19 terjadi.

”Terus terang semenjak dengan adanya Covid 19 yang terjadi keluarga kami tidak mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah. Dengan itu kami sangat mengharapkan kepada pemerintah berikan kami peratian agar kami bisa menyambung hidup bersama dengan keluarga ditengah pandemic Covid yang terjadi,”tutupnya. (ags).