JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BULELENG
Typography

SINGARAJA - fajarbali.com | Ditengah serangan virus Corona atau yang lebih akrab Covid 19 berbagai upaya yang dilakukan dalam melakukan pencegahan terhadap virus mematikan tersebut baik dari upaya kesehatan, kebersihan, penggunaan masker hingga pelaksanaan persembahyangan dilakukan asyarakat Buleleng guna mengusir atau mencegah Covid 19 terjadi.

 

Seperti yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di Banjar Adat Giri Loka, Dusun Lalanglinggah, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada yang melakukan tarian Sang Hyang Penyalin yang diyakini menangkal gerubug (wabah-red) Corona. Dimana dalam tampilan tarian Sang Hayang Penyalin selalin warga melakukan penyemprotan disinfektan keliling desa warga masyarakat juga melangsungkan tarian Sang Hyang Penyalin dengan keliling desa.

Hal itu diyakinkan dapat mencegah gerubug Virus Corona atau Covid 19 yang terjadi. Bagaimana cerita tarian Sang Hyang Penyalin? Tarian Sangyang Penyalin dilakukan hal itu diyakini dapat mencegah gerubug yang terjadi terkait penyebaran Virus Corona atau Covid 19 belakangan ini. Warga masyarakat Desa Pancasari melangsungkan ritual tariang Sang Hyang Penyalin yang diarak keliling desa guna mencegah wabah Corona yang semakin menakutkan. Bahkan dalam prosesi pelaksanaan tariang Sang Hyang Penyalin dilakukan, Sabtu (4/4/2020) malam kemarin terlihat situasi desa yang berhawa sejuk itu amat sepi. Biasanya banyak warga yang melintas di jalan pantura Singaraja – Denpasar namun disaat memasuki pukul 17.00 wita kawasan jalan yang biasaya padat terlihat hanya satu dua kendaraan yang melintas.

Begitupun yang terjadi di Desa Pancasari, tidak Nampak ada bagitu banyak masyarakat yang keluar rumah desa yang biasanya rame akan aktifitas masyarakat utamanya dalam factor pertanian itu terlihat sepi bagaikan tidak ada penghuni. Saat itu hanya terlihat beberapa warga masyarakat yang menggunakan pakaian adat keluar rumah guna mengikuti prosesi upacara tarian Sang hyang Penyalin yang disakralkan dari turun temurun.Tepat di pintu perbatasan Buleleng-Tabanan, belasan krama Banjar Adat Giri Loka berkumpul di Pura Melanting yang berada di areal Bale Banjar Giri Loka. Belasan krama tersebut rupanya hendak nyolahang (melangsungkan-red) tari Sang Hyang dengan cara ngelawang di dusun Lalanglinggah. Sebelum ngelawang dimulai, dua buah Sang Hyang Penyalin (rotan) sebagai symbol dari widyadara dan widyadari itu dibuatkan upacara mapiuning yang dipimpin jro mangku pura setempat.

Begitu selesai sembahyang, dua penyalin sakral berusia puluhan tahun itupun segera mesolah. Krama yang hadir tersebut kompak menyanyikan kekidungan khusus yang sangat disakralkan ditujukan kepada Sang Hyang Penyalin. Setelah nadi (dirangsungki kekuatan-Red) maka kedua penyalin lanang-wadon tersebut mulai bergerak-gerak sembari memercikkan tirta, dengan diiringi suara gemercing gongseng dari pangkal rotan yang telah dipasang. Mulailah krama yang ngiringang Sang Hyang Penyalin berjalan menyusuri kawasan permukiman dusun Lalanglinggah ketika matahari mulai terbenam. Bahkan sang Hyang Penyalin masuk ke dalam gang-gang sempit. Warga pun sudah siap dengan penyanggra yang berisi  canang sari lengkap berisi beras, jinah (uang-Red), ganjaran putih kuning di pintu gerbang pekarangan rumah. Selanjutnya tirta yang diberikan Sang Hyang Penyalin kemudian dipercikkan ke seluruh areal rumah dan sanggah kemulan.”Beras dan jinah (uang, Red) diambil sekeha neglawang sebagai haturan.

Kemudian tirtanya kita percikkan ke areal rumah dan merajan dan ditunas,” ujar Wayan Murtini salah seorang warga. Dikatakan Murtini ngelawang Sang Hyang Penyalin bukan hanya kali ini saja ia saksikan. Tetapi juga saat Tilem Sasih Kaenem.”Mungkin karena sekarang ada gerubug akibat Virus Corona, makanya Ida medal ngelawang, agar dinetralisir,” imbuh Murtini. Sementara itu Kelian Sekeha Sang Hyang Penyalin Puspa Mandala Giri, Gede Adi Mustika menjelaskan, ngaturang ayah ngiring Ida Taksu mesolah ngelawang Sang Hyang Penyalin dilakukan mengingat terjadi wabah Covid-19 sehingga menyebabkan jagat kabrebehan atau gerubug agung. Adi pun bersama prajuru adat merasa terketuk hatinya untuk nyolahang Sang Hyang Penyalin dengan harapan wabah Corona segera musnah. Selain banten penyangra di rumah-rumah, setiap pertigaan atau perempatan yang dilewati Sang Hyang Penyalin sebagai perlintasan wajib juga ada segehan  mancawarna.”Kami merasa terketuk hatinya untuk ngiringang Ida Hyang Taksu.

Kebetulan hari ini juga Tumpek Krulut dan ada pujawali di Pura Taksu. Sehingga sangat tepat untuk melakukan ngelawang,”ujar Adi didampingi Kadus Lalanglinggah, Kadek Arik Arditha. Tradisi ngelawang saat terjadi kabrebehan agung sebut Adi dilakukan berdasarkan Lontar Nityakala.  Terlebih, tarian ini diyakini sudah ada sejak jaman pra Hindu dan wajib dipentaskan saat Sasih Kenem yang juga bertujuan untuk menyomia bhuta kala.”Selain ditarikan secara incidental ketika ada gerubug agung, tarian ini dipersembahkan untuk Dewa-Dewi dan nyomia para Bhuta Kala, khususnya saat Tilem Kenem, Tilem Kesanga baik di Catus Pata. Artinya dilaksanakan saat pecaruan untuk menetralisir Kala agar tidak mengganggu manusia. Ya tujuanya untuk menolak bala,”imbuhnya. (ags).