JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BULELENG
Typography

SINGARAJA – fajarbali.com | Masyarakat yang ada di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan heboh. Hal itu diakibatkan karena puluhan babi peliharaan warga masyarakat setempat mati secara mendadak.

Puluhan babi milik warga yang mengalami kematian dengan mendadak itu terjadi di dua dusun yang ada yakni di Dusun Dauh Munduk dan Dusun Punduh Lo. Menurut informasi yang sempat dikumpulkan di lokasi kejadian, Selasa (11/2/2020) menyebutkan total babi peliharaan warga masyrakat yang mengalami mati mendadak berjumlah 29 ekor yang ada di dua lokasi tersebut.

Menurut peternak babi Nyoman Ari Suta saat dikonfirmasi pihaknya mengakui babi miliknya sebanyak 21 ekor babi jenis saddleback mati mendadak yang terjadi minggu belakangan ini.”Ia babi saya sebanyak 21 ekor mati mendadak. Kami tidak mengetahui persis apa penyebab babi saya mati dan semuanya sudah saya kubur,”akunya dengan polos. Lebih jauh tutur Aria, matinya babi peliharaannya terdiri dari lima ekor babi induk, dua ekor babi dewasa dan 14 ekor anak babi yang baru berusia dua minggu.”Sebanyak itu babi saya mati mendadak dan dengan kejadian it uterus terang kami mengalami kerugian hingga Rp 20 juta lebih karena satu babi dewasa yang mati itu sudah di tawar sebesar Rp 2 hingga tiga juta,”lanjutnya. Dikonfirmasi bagaimana babi miliknya mati? Dirinya menuturkan kalau awalnya babi peliharaannya mati sebelumnya tidak mau makan dan terus mengalami lemas hingga akhirnya mati. Dalam pengobatan yang dilakukan lanjutnya dirinya mengakui sempat menyuntik babinya yang mengalami sakit yang dilakukan oleh dokter hewan namun tidak ada perubahan hingga mati.

”Awalnya induk babi kami tidak mau makan hingga akhirnya lemas. Sempat kami carikan dokter hewan dan disuntik namun tidak ada perubahan. Setelah induk babi kami mati menular ke babi yang lainnya mengalami hal yang sama hingga babi kami habis,”tuturnya lagi sembari menunjukkan kandang babi yang masih terisi satu babi. Setelah babi miliknya mati seminggu yang lalu kemudian dirinya mengubur bangkai babi miliknya disekitaran dekat rumah miliknya.”Bangkai babi saya sudah saya kubur satu minggu yang lalu,”imbuhnya. Disinggung terkait cara pemberian makan, Aria mengaku pakan yang diberikan bukan berasal dari limbah makanan. Melainkan dari campuran dedak dan kangkung yang direbus. 

Demikian dengan kebersihan kandang, Aria juga mengklaim selalu dijaga. Untuk itu, ia pun merasa bingung mengapa seluruh babinya itu mati mendadak.”Babi ini memang saya pelihara untuk dikonsumsi sendiri, atau untuk sarana upacara. Kalau punya anak lebih, baru saya jual. Setelah Galungan ini, cucu saya mau tiga bulanan. Rencananya mau nampah, tapi ternyata mati semua,”ucap Aria lirih. Sementara Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta mengatakan, berdasarkan hasil penelusuran, ada 15 ekor babi dewasa yang mati di Desa Bungkulan. Sumiarta pun belum berani memastikan apakah babi yang mati itu akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau karena penyakit yang lain.

Sebab untuk mengetahui penyebab kematiannya, harus melalui uji lab dari Balai Besar Veteriner Denpasar.”Kami akan mengambil sampelnya untuk dicek,”jelasnya. Kendati dengan adanya kasus ini, Sumiarta menyebut masyarakat tidak perlu khawatir. Karena penyakit yang menyerang babi tidak akan menular ke tubuh manusia, selama proses pengolahan dagingnya dilakukan dengan benar. Untuk mencegah kasus ini menular ke daera lain, Dinas Pertanian Buleleng melalui Tim Reaksi Cepatnya dalam waktu dekat akan turun ke Desa Bungkulan untuk melakukan penyemprotan disinfektan ke kandang-kandang babi milik warga.

”Kami imbau  masyarakat yang mau memelihara babi, untuk tidak membeli bibit babi dari daerah yang sudah terkena kasus kematian. Sementara untuk babi yang sudah mati meskipun belum diketahui penyebanya, dagingnya tidak boleh dijual. Harus segera dikubur. Mendekati Galungan kami akan melakukan pengecekan ke peternak dan tempat pemotongan, untuk memastikan daging yang dijual aman,”tutupnya. (ags).