BULELENG
Typography

SINGARAJA-fajarbali.com | Lantaran telah mapan, sebanyak empat Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang merupakan bagian dari Program Keluarga Harapan (PKH) yang ada di Kabupaten Buleleng menyatakan diri telah memundurkan diri sebagai penerima PKH.

Empat warga yang dulunya sebagai penerima PKH kini sudah memundurkan diri sebagai penerima lantaran empat warga yang dulunya penerima PKH kini hidupnya sudah mulai mapan dan bisa keluar dari kemiskinan.

Menurut Koordinator Pendamping PKH Kabupaten Buleleng, Gede Wiryawan, program PKH di Buleleng yang sudah berjalan sejak tahun 2010 hingga saat ini ada sebanyak 26.635 KPM penerima manfaat. Dari jumlah tersebut ada beberapa penerima manfaat terutama penerima tahun pertama sudah lolos dari program PKH yang disebut graduasi baik berdasarkan penilaian pendamping dan Perbekel, serta graduasi mandiri.

”Memang susuai target pemerintah pusat KPM penerima manfaat setelah enam tahun diharapkan sudah ada peningkatan kesejateraan keluarga. Kalau belum juga masih layak diberikan perpanjangan transisi selama 3 tahun. Sejauh ini memang sudah ada yang keluar karena hasil evaluasinya sudah tidak lagi dalam kategori keluarga kurang mampu,” jelas dia.

Meski ia tak merincikan secara detail berapa KPM yang graduasi penilaian pendamping PKH, namun yang membanggakan adalah graduasi mandiri yang digenjot di tahun 2019 ini mencapai belasan orang.

”Ini sudah mulai ada kemajuan pesat dari 2019 dan bulan Juni kemarin saja ada 4 KPM. Dengan data ini pihaknya pun mengklaim bahwa program PKH benar-benar memberikan jalan kepada masyarakat kurang mampu untuk memperbaiki hidupnya,” tambahnya.

Seperti yang diungkapkan salah satu keluarga yang dulunya sebagai penerima PKH yakni I Gusti Ayu Supiani (42) warga masyarakat Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt yang merasakan dirinya telah mapan dan mundur dari penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

”Terus terang kami dulu adalah warga yang tidak mampu dan berkat adanya program PKH yang dicanangkan pemerintah akhirnya kami bisa sedikit demi sedikit keluar dari kemiskinan dan sekarang kami merasakan diri sudah mampu dan akhirnya kami keluar dari penerima PKH hanya untuk memberikan kesempatan kepada warga yang tidak mampu lainnya untuk menerima PKH,”katanya saar dikonfirmasi, Selasa (2/7/2019).

Ibu dua orang anak ini memulai usaha dagangnya sejak tahun 1997 silam dengan modal seadannya yang dipinjam dari ibunya. Awal mula ia berjualan di pasar desa tempat tinggalnya. Selanjutnya tahun 2015 ia memberanikan diri mengambil pinjaman bank untuk keperluan modal usaha. Kini usaha yang dirintisnya dua puluh dua tahun lamanya membuahkan hasil manis.

Pasalnya lokasi tempat berjualan saat ini sangat strategis ditambah ia mendapat kepercayaan dari bank ditunjuk menjadi agen penyalur Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). ”Sempat jatuh bangun ketika masih berjualan di pasar tidak mendapatkan untung sama sekali, kemudian suami di PHK, sedangkan saat itu masih menanggung anak sekolah hingga ia bersama keluarga menumpang dirumah iparnya,” tuturnya.

Di tengah kondisi sulit saat itu keluarganya sempat merasakan Bantuan Langsung Tunai (BLT), kemudian pada tahun 2018 menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH. Dana PKH yang diterima ia gunakan untuk keperluan sekolah dua anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah menengah atas dan menegah pertama. Selain PKH, Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIP), Beras Sejahtera juga ia peroleh.

Tahun ini dengan usaha warungnya keluarga Supiani mampu meraup keuntungan Rp. 1,200.000-2.100.000/hari dengan menjual kebutuhan pokok dan keperluan sehari-hari. Ditambah keterampilan yang ia dan suami miliki membuat “Banten” (sesaji, sarana upacara agama-red) yang mampu menghasilkan Rp.6.000.000 dalam hari-hari tertentu (tidak setiap saat-red) saat upacara keagamaan.

Meski sempat merasakan dana PKH setahun, Koordinator Kabupaten Buleleng Gede Wiryawan sangat mengapreasiasi usaha dan kesadaran keluarga I Gusti I Ayu Supiani saat meninjau lokasi bersama pendamping Sosial dan Pekerja Sosial Supervisor di Desa Lokapaksa. Pedamping sosial Ni Gusti Made Lia Harsini selama mendampingi keluarga Ibu Supiani memang melihat motivasi lebih untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Lia Harsini juga berpesan agar KPM yang sudah graduasi mampu mempertahankan dan meningkatan apa yang sudah diperoleh saat ini. Selain Supiani, Wiryawan juga mengatakan ada puluhan KPM yang bersiap membangun e-warung. Mereka pun memastikan akan graduasi mandiri setelah usaha mereka jalan dan ada penghasilan tetap. (ags)