JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN

MANGUPURA-Fajar Bali | Raut wajah I Made Manipuspaka, siswa kelas VI SD Imanuel Dalung itu nampak ceria ketika menunjukkan semua fotonya saat berkunjung ke Kota Seoul, Korea Selatan. Namun satu foto terlihat berbeda di antara foto lainnya. Bukan sekadar foto beriwisata, tetapi satu foto ketika Made Manipuspaka memainkan suling bambu di hadapan tamu-tamu penting di Korea. Dalam foto itu juga tampak jelas ketika Dek Mani masih menggunakan seragam sekolah putih merah lalu beraksi di podium.

Dek Mani, sapaan akrabnya, berhasil mewakili SD Imanuel, tempat ia bersekolah dalam kegiatan studi banding yang diadakan Yayasan Bali Myodong di Seoul, Korea Selatan. Dalam kegiatan tersebut, anak ke dua dari pasangan I Nyoman Budiarsana dan Ni Made Sri Astuti itu berkesempatan menunjukkan kebudayaan Bali di bidang seni dan tradisi.

Siswa yang sudah aktif berkesenian sejak usia 5 tahun tersebut tentu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapat. Tak tanggung-tanggung, anak berperawakan mungil ini tampil percaya diri bak artis yang sedang pentas di panggung. Padahal saat itu, kata Dek Mani, tamu undangan yang hadir di Gereja Myon Dong Kota Seoul, tempat gelaran acara tersebut sangat banyak. Banyaknya orang di sana hampir membuat ia kehilangan keberanian. Namun berkat sambutan meriah ratusan orang asing itu membuat Dek Mani terbakar api semangat. “Sedikit deg-degan sih. Tapi saya coba tarik napas biar gak lupa lagu,” katanya saat ditemui di sekolahnya, Senin (23/10).

Dek Mani menjelaskan, lagu  yang dimainkan saat itu berjudul “Gembala Baik Bersuling Nan Merdu”, yakni lagu yang memiliki ritme dan dinamika yang cenderung lembut nan panjang. Uniknya, lagu tersebut memiliki notasi yang dimainkan pada skala nada diatonik (Tujuh tangga nada). Sedangkan suling Bali hanya memiliki lima nada dalam skala notasi yang disebut pentatonik, yakni nada ndong, ndeng, ndung, ndang, dan, nding, atau dalam nada diatonik disebut re, mi, sol, la, dan do (tanpa fa dan si).

Namun demikian, Dek Mani yang sudah lihai memainkan berbagai alat musik itu dapat mengolah berbagai nada dengan segala cara untuk bisa memainkan lagu tersebut secara sempurna. “Latihan saja dua minggu. Setelah itu latihan pernapasan selama dua hari sebagai pemantapan. Akhirnya saya bisa memainkan lagunya tanpa ada halangan,” ceritanya dengan ekspresi kalem.

Kegiatan studi banding itu pun menjadi pengalaman berharga bagi dirinya dan keluarga. Ia yang sempat menjadi Duta Kabupaten Tabanan kategori lomba Gender Wayang anak-anak pada PKB 2016 lalu itu mengungkapkan, tak akan pernah lupa cerita-cerita yang ia alami selama menjadi siswa berprestasi. Ia berharap semua anak-anak di Bali mampu mengharumkan nama daerah hingga bisa seperti dirinya, mewakili tanah kelahiran ke taraf Internasional.

Guru Bahasa Inggris SD Imanuel Dalung, Ferdinandus Apri mengatakan, selain kegiatan pengenalan budaya, juga dilakukan studi banding ke salah satu sekolah dasar negeri di Kota Seoul, DongtanJungang Public School. Kegiatan studi banding itu dilakukan untuk mengetahui perkembangan teknologi dan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah tersebut. Sehingga SD Imanuel dapat mencontoh fasilitas dan sarana yang ada di sana kemudian untuk diterapkan dan dijalankan. Kunjungan edukasi juga dilakukan ke Universitas Soongsil, Korea. “Kami sangat kagum dengan fasilitas pendidikan yang ada di sana (Korea Selatan). Seperti pelajaran menggambar saja menggunakan media semacam live digital, sehingga masing-masing siswa menggambar melalui media itu. Kemudian hasil gambar ditampilkan pada layar di depan kelas. Jadi, siswa tak perlu tengok sana tengok sini untuk lihat gambar milik teman lainnya,” cerita Ferdinandus yang ikut mendampingi Dek Mani waktu lalu. Ferdinandus berharap, apa yang disimaknya di Korea waktu lalu dapat diterapkan di SD Imanuel. Sehingga kemajuan pendidikan di Bali dapat diwujudkan sekaligus membantu pemerintah daerah dalam memajukan sekolah, khsusunya sekolah di Badung. (eka)