JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA

DENPASAR-Fajar Bali | Komunitas seni musik Bali, Gajah Etnik Musik Bali memeriahkan Parade Musik Sesi I dalam Gelar Seni Akhir Pekan (GSAP) Bali Mandara Nawanatya II – 2017, Sabtu (21/10), di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya, Denpasar Bali. Dimana dalam kesempatan tersebut, juga dirangkai dengan pre-launching album perdana mereka bertajuk ‘Saraswati’.

Gajah Etnik Musik Bali menampilkan beberapa lagu, diantarannya Melodi Doa, Ibu Pertiwi, Saraswati dan Bali Harmoni. “Lagu Bali Harmoni ini mengajak kita semua untuk menjaga alam ini atau semesta ini seperti  mencintai ibu sendiri,” tutur Kordinator grup musik Gajah Etnik, Gung Surya di atas pentas.

Bagi grup musik Gajah Etnik musik adalah tawa canda mereka. “Sedih dan bahagia berbagi dalam satu nada mewakili rasa. Dan, musik memenuhi relung jiwa. Musik pun menceritakan waktu dan harapan,” tutur Gung Surya.

Penampilan Gajah Etnik mampu menghibur penonton. Apalagi dengan memasukkan gerak tari pada lagu Saraswati ataupun musikalisasi puisi dan dolanan anak-anak pada beberapa lagunya. Tak heran canda tawa dan kelucuan anak-anak mampu membuat penonton terpingkal-pingkal.

Selain penampilan Gajah Etnik Musik Bali, juga tampil Gamelan Pesel. “Gamelan pesel ini, merupakan ide kreatif sebagai sebuah garapan,” apresiasi pengamat seni, Dr. I Nyoman Astita, MA. Apresiasi ini diberikan Astita usai menonton pertunjukkan.

Ide kreatif itu, menurut Astita terlihat dengan upaya penggabungan gamelan selonding dan semar pegulingan. “Cuma dari suara gamelannya saya merasa kesan semar pegulingannya menjadi kurang karena larasnya rendah, kurang nyaring. Tetapi  kalau selonding kena,” komentar Astita.

Tidak hanya itu, dalam pengamatan Astita dari ke enam nomer yang ditampilkan, untuk nomer satu sampai lima (Ayuning, Kerulut, Muda Langen, Jangkep dan Cakup Lima – red) terkesan lebih ke gending-gending perurung atau peraras-arasan. Jadi untuk jenis-jenis gending-gending pengecet lebih dominan dari satu sampai lima.

“Saya lihat dalam mengolah ini kurang kaya dalam artian  saya membayangkan dengan karyanya Lotring. Jadi permainan  atau penonjolan diksman itu kurang. Jadi kesannya lagu satu sampai lima itu sama. Judulnya dibuat berbeda tetapi lagunya terkesan mirip-mirip begitu,” ulas Astita.

Menurut Astita, dengan garapan seperti itu, bagi dirinya dapat saja menerima adanya perbedaan sedikit. Tetapi kalau orang awam menangkapnya, kesannya hampir sama.

Menanggapi ulasan Astita, menurut komposer keenam lagu gamelan pesel yang dipentaskan, I Wayan Arik Wirawan mengatakan, soal nadanya yang terkesan sama itu tak lepas karena ia yang menciptakan ke enam gending tersebut. Gamelan ini ada selonding dan ada semar pegulingan.

Arik Wirawan juga mengakui kalau bunyi gamelannya lebih banyak sesuai dengan nada kesukaannya. “Ini kan saya yang menciptakan, maka nadanya sama. Kalau beda penggarap maka beda juga hasilnya. Memang tanggapan pak Astita itu ada benarnya. Cuma kalau lebih detail lagi,  dari kelima gending itu hanya sedikit sama, tetapi motif dan struktur tentunya perpindahan nada itu beda-beda,” papar Arik Wirawan. (alt)