JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR

DENPASAR-fajarbali.com | Sidang kasus dugaan reklamasi liar dan pembabatan hutan Magrove dengan terdakwa I Made Wijaya alias Yonda, Senin (6/11) dilanjutkan. Dalam sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suhadi dkk., menghadirkan empat orang saksi. 

Ada empat orang saksi yang dihadirkan untuk dimintai keteranganya di muka sidang pimpinan Hakim I Ketut Tirta. Salah satunya adalah saksi pelapor, I Wayan Sudira atau yang lebih dikenal dengan panggilan Lanang Sudira.

Namun, saksi yang paling pertama diperiksa adalah saksi Polisi bernama Nyoman Madra. Diketahui, saksi adalah petugas polisi yang menerima laporan dari saksi Lanang Sudira. 

Di muka sidang, Madra menuturkan awalnya mendapat laporan dari I Wayan Sudira yang mengatasnamakan LSM Forum Peduli Magrove. 

Dikatakan saksi, laporan awalnya menyatakan, ada masyarakat membuat bendungan dan melakukan pengerusakan/pemotongan Mangrove di pantai pesisir barat, Tanjung Benoa. 

Setelah menerima laporan tersebut, saksi mengatakan langsung melakukan pengecekan ke lolasi. Saat melakukan pengecekan, saksi mengatakan tidak sendiri. Dia bersama pelapor, I Wayan Sudira."Kami melihat memang ada bekas bangunan/bedeng,"ungkap saksi. 

Selain itu, kata saksi, saksi juga melihat molen (alat pengaduk semen). "Saksi tahu kapan dilakukan penebangan Magrove tersebut,"tanya hakim I Ketut Tirta yang dijawab tidak tahu, hanya saksi menerima laporan dari pelapor pada tanggal 13 Januari 2017. 

Saksi juga menuturkan, saat ke lokasi, selain ditemani oleh pelapor, saksi juga didampingi oleh staf dari UPT. Tahura bernama  Agus Santoso."Selain kami menemukan molen, kami juga melihat ada selang, kabel listrik dan semen," ungkap saksi. 

"Siapa yang meletakkan barang-barang yang saksi lihat itu,"tanya Hakim yang dijawab saksi, menurut informasi ada lima orang yang meletakkan alat-alat tersebut. Mereka adalah Made Marna, I Made Merta, I Ketut Sukada, I Made Suartha, dan I Made Dwi Widnyana. 

Saksi juga menuturkan, dari informasi yang didapatkan dan dari hasil pantauannya di tempat kejadian, ada kurang lebih 20 pohon Mangrove yang ditebang. Masih melalui pengakuan saksi, dari infomasi yang didapat yang melakukan penebangan pohon mangrove adalah Made Merta dkk. 

"Dari informasi yang saya dapat pelakunya ada enam orang. Dari enam orang itu satu orang yang merupakan bendasa adat setempat yang memberikan surat tugas dan memberikan perintah,"sebut saksi. 

Sementara saksi lain, yaitu saksi pelapor I Wayan Sudira alias Lanang Sudira yang juga diperiksa menunturkan, membenarkan telah membuat laporan adanya penegasan hutan magrove di Pantai Barat, Tanjung Benoa. Namun dengan jujur saksi mengaku tidak mengetahui siapa pelaku penebasan dan dugaan adanya reklamasi liar terbut.

Dikatakan Lanang Sudira, pihaknya melaporkan kasus ini setelah menemukan adanya hutan Magrove yang ditebang. "Pada saat kami melakukan monitoring, kami menemukan adanya penebasan pohon Magrove tersebut,"ujar saksi.

Setelah itu, saksi awalnya melaporkan temuan itu ke Dinas Kehutanan Provinsi Bali. "Namun oleh Dinas Kehutanan kami diminta untuk langsung melaporkan ke Polda Bali," sebut Lanang Sudira. 

Lanang Sudira mengakui bahwa, sebelum pihaknya melaporkan ke polsisi, pihak Dinas Kehutanan maupun UPT. Tahura sudah memberikan surat teguran kepada pihak yang diduga melakukan penebasan Mangrove tersebut. 

"Yang saya tahu setelah adanya surat teguran dari Dinas Kehutanan, aktifitas ditempat kejadian dihentikan. Namun alat-alat yang digunakan untuk menguruk masih ada di lokasi," tandasnya. 

Sementara itu, dua saksi lainnya yaitu I Ketut Sadia dan I Wayan Ranten belum bisa dimintai keterangan karena waktu yang sudah tidak memungkinkan. Kedua saksi tesebut akan dimintai keterangan pada sidang perkan depan. Pun dengan persidangan untuk lima terdakwa lainya juga mengalami penundaan.(sar)